Ruang Nostalgia

183fb7b9a55c8c4303fdcdf4a0f0a84d.jpg

“Sejujurnya, parfum Floral lebih cocok untukmu, Cass.”

Ini buruk.

Senin pagi seharusnya tak bisa jauh lebih menjengkelkan dari ini. Pukul tujuh dua puluh tadi, Casey telah menempelkan jari telunjuknya pada layar fingerprint untuk absensi. Lantas, mengawali hari kerja dengan separuh mengantuk, ia membeli segelas kopi dari vending machine sebelum akhirnya beranjak ke lantai atas kantornya kemudian bekerja sampai larut.

Senin paginya jelas normal, seandainya Casey tidak pernah berada dalam lift yang sama berdua dengan Yifan.

“Lantai delapan, Cass?” Yifan bertanya, menyorotkan pandang ke arah gadis di sebelahnya. Telunjuk tangannya berada di depan panel pada sisi kanan pintu.

“Persis,” jawab Casey.

“Aku turun sebelum kau,” Yifan giliran menjawab sembari menekan tombol bernomor tujuh dan delapan, lalu pintu tertutup rapat. Gerakan mengarah ke atas dalam ruang sempit itu sedikit membuat keduanya mendustakan gravitasi untuk beberapa saat.

“Kau lembur hari ini?” tanya Yifan.

Casey mengangkat alis, berusaha nampak biasa saja. Apakah itu perhatian atau basa-basi? “Ya, tentu saja.” Ia menambahkan, “Maksudku, kapan kita tidak?”

Yifan hanya tertawa kecil.

Jelas itu cuma basi-basi.

Lalu keheninganlah yang menemani mereka.

Sial, genap enam bulan sudah Casey berupaya keras menghindari kontak dengan Yifan, dan ia merasa cukup lihai dalam mengerjakannya. Terlebih, kendati bekerja di kantor yang sama, mereka ditugaskan dalam divisi yang berbeda. Bertemu di lobby, cafetaria, atau saat ada rapat besar tidak akan jadi masalah.

Namun berada di lift berdua saja dengan mantan pacarnya adalah kiamat bagi Casey.

Diam-diam, Casey menilik refleksi buram sosok pria itu pada pintu lift di hadapannya. Yifan tidak berubah. Yah, mungkin sedikit. Tetapi secara garis besar, lelaki itu masih sama. Dia masihlah Yifan yang surai cokelat tuanya kelihatan segar, meski ia belum begitu paham bagaimana cara menyisir rambut dengan rapi. Wajahnya setenang ombak pantai yang mereka kunjungi musim panas lalu. Gaya berpakaiannya mungkin agak berlebihan untuk pegawai kantoran yang menghabiskan sepanjang hari di dalam ruangan. Tapi, memang begitulah Yifan yang Casey kenal.

Yifan tidak banyak berubah.

Terkecuali kenyataan bahwa aroma dalam ruangan tersebut yang berbeda. Bukan wangi parfum yang Casey semprotkan ke tubuhnya pagi ini, bukan wangi parfum yang selalu ia hirup manakala berada di dekat Yifan, bukan pula wangi parfum yang sangat ia rindukan belakangan ini. Bukan, ini bukan wangi Oceanic yang biasa Yifan pakai dulu.

Ini bukan wangi Oceanic yang hari ini Casey kenakan.

Ini Citrus.

Dan Casey benci Citrus.

Oceanic?”

Tampaknya Casey bukan satu-satunya yang menyadari kejanggalan itu. Ia berpaling ke arah Yifan, mendapati pria tersebut telah memandangnya terlebih dahulu.

Citrus.

Jelas itu bukan jawaban untuk tebakannya barusan.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Yifan.

Casey mengedik. Karena aku pernah mengatakan bahwa wangi Citrus seperti bau pengharum toilet dan kau mengakak dulu sebelum akhirnya setuju. “Tahu saja.”

“Jarang-jarang kau menggunakan parfum Oceanic,” tutur Yifan.

Casey sempat bingung harus bilang apa, namun ia memutuskan untuk memutar balik pernyataan sang pria, “Dan kau tak pernah sekali pun menyentuh Citrus.”

Yifan tersenyum. Demi Tuhan yang Maha Pemurah, dia betul-betul tersenyum. Lengkung senyum yang acap kali membuat Casey merasakan kehangatan di sepanjang sinapsis, neuron, dan jalur-jalur neurologis vitalnya. Oh, kapan terakhir kali Casey mellihatnya? Musim panas lalu saat memilih rasa es krim di Baskin Robbins?

“Tidak ada alasan khusus, Cass. Aroma Citrus ternyata tidak terlalu menyengat kalau ekstrak penyusunnya pas. Ini lime, dipadukan dengan madu dan daun mint, kurasa. Sangat menyegarkan,” terang Yifan. “Kau… tumben sekali. Oceanic? Mengapa tidak Floral seperti biasa?”

Sepantasnya Wu Yifan tak pernah menanyakan hal tersebut. Bagi sang mantan kekasih mungkin terdengar seperti angin lalu, tetapi bagi Casey itu adalah badai. Hurricane Venus, La Nina, El Nino, El Classico—eh, entahlah, apapun.

Casey terpekur barang sejemang. Gadis itu mau saja meneriakkan jawabannya tepat di depan batang hidung Yifan, memaparkan ribuan atau jutaan alasan kepada Yifan mengenai aroma angin laut yang melekat pada kardigannya, alih-alih harum bebungaan.

Namun, sudut hatinya yang lain berkata sebaliknya.

Dia tidak perlu tahu.

Tidak perlu.

“Mau saja,” balas Casey santai. “Tak ada salahnya mencoba hal baru.”

Yifan mengangguk paham. Lalu sunyi kembali melingkupi. Keheningan yang canggung dan ganjil juga termasuk dalam daftar hal yang paling Casey benci seumur hidup. Dia harus berpura-pura nyaman dalam atmosfer yang mengurung mereka bersama, padahal tidak. Sama sekali tidak. Dia benci harus pura-pura menatap dinding lift yang menunjukkan refleksi keduanya di sana, atau gelas espresso yang ia genggam,  atau flat shoes yang dikenakannya, sambil sesekali mencuri pandang pada pria jangkung itu sepintas.

Akhirnya, Yifan buka suara. “Sejujurnya, parfum Floral lebih cocok untukmu, Cass.”

Dan Casey, lagi-lagi, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Benaknya bertarung. Apa pedulinya? Apa peduli Yifan kalau ia pakai parfum Oceanic? Apa peduli Yifan kalau dia pakai parfum Floral? Akankah itu membuat Yifan ingin kembali padanya? Akankah itu membuat Yifan mampu mencintainya kembali? Akankah semuanya bisa mereka mulai dari awal lagi?

“Lebih… entahlah, aku hanya kurang suka kalau kau pakai Oceanic. Kupikir itu lebih cocok untuk pria, Cass. Kalau kau ingin sesuatu yang baru, barangkali Fruity boleh dicoba. Harum buah-buahan seperti berry menurutku manis.”

“Kalau begitu, mestinya kau juga tahu kalau aku benci Citrus…

Casey melontar serangan balik. Atau, tidak juga. Yifan datang dengan bendera putih kedamaian, namun secara tak terduga Casey malah meluncurkan agresi perang.

Jadi, siapa yang salah sekarang?

“Kalau begitu mestinya kau tahu aku benci Citrus, Yifan.”

Jeda sejenak.

“Mestinya kau tahu kalau aku lebih suka segar Oceanic, daripada tumpahan jus lemon yang berbau asam dan menusuk hidungku itu. Mestinya kau tahu kalau wangi Oceanic mengingatkanku pada perjalanan terakhir kita sebelum segalanya berubah, pantai di musim panas, es krim rasa permen kapas, sunset dan debur ombak saat hari sudah gelap. Mestinya kau tahu kalau aku menyukai aroma yang menguar dari tubuhmu lebih dari apapun, dan itu bisa membuatku tersenyum sepanjang hari.

Mestinya kau tahu kalau aku merindukan aromamu dan segala yang pernah terjadi pada kita, Yifan. Mestinya kau tahu, karena itulah mengapa hari ini aku memutuskan untuk menggunakan parfum yang sama denganmu, agar walaupun kau tidak ada di sisiku, setidaknya aku bisa selalu mengingatmu, merasakanmu… apapun, Yifan. Mestinya… mestinya kau tahu…”

Mendadak waktu membeku. Yifan terdiam seribu bahasa.

Mestinya Casey tahu kalau kini ia kelewat dungu layaknya seekor keledai sampai-sampai bisa berdeklarasi seberani itu tentang perasaannya. Tepat di depan sang mantan pacar.

Mestinya ia tak pernah mengatakan hal-hal tolol tersebut. Mestinya ia menelan omong kosongnya beserta kenyataan pahit bahwa mereka sudah tidak bersama lagi.

Mestinya ia tak pernah terjebak di dalam sini. Ruang nostalgia. Berangan-angan bila waktu bisa diputar terbalik. Berharap segala sesuatu bisa diulang kembali. Dan semuanya akan baik-baik saja.

Mata Casey terasa panas.

Lupakan, Cass, seperti pria ini tidak pernah mampir di hidupmu sebelumnya.

“Casey Ardene…” Oh, mampus, nama belakangku. “Aku mengerti ini sulit bagi kita berdua. Membiasakan diri terhadap hal-hal yang telah berubah bukan pekerjaan mudah. Percayalah, Cass, kita pernah melalui yang lebih dari ini.  Dan aku yakin, baik kau dan aku, akan melewatinya dengan baik-baik saja.”

Cukup.

Casey tak butuh kalimat penenang. Yifan mungkin memang sudah melupakan saat di mana segalanya masih indah. Dia mungkin tidak apa-apa meski mereka harus berpisah, atau jauh lebih baik begini malah. Casey tak menginginkan apa-apa lagi sekarang, selain keluar dari lift dan berlagak layaknya kejadian ini tidak pernah ada.

Casey benci Senin paginya berantakan mirip perasaannya kini. Casey benci aroma ruangan ini. Casey benci mengakui kalau dirinya dan Yifan sudah usai. Casey benci mereka tidak mungkin bersama lagi. Casey benci Yifan, Casey benci Citrus, namun Casey jauh lebih membenci dirinya yang berat untuk melepaskan sang mantan.

Lantas, bunyi ding yang familiar terdengar.

Lantai tujuh.

Yifan menatap Casey tepat di mata.

“Kau tahu, Cass?” tanyanya. “Kau selalu benar, aroma Citrus memang terlalu tajam. Aku tak pernah sekali pun menyukai itu. Tapi, begitulah, kadang-kadang kita harus menerima apa yang kita benci, dan sekarang aku sedang melakukannya.”

Casey bergeming, menggenggam gelas kartonnya kuat dengan tangan bergetar.

“Aku harus pergi,” pamit Yifan. “Take care.”

Begitu saja, Yifan mengayunkan tungkai keluar dari lift selepas melempar senyum ke arah sang gadis. Ia melenggang, meninggalkan Casey sendirian bersama aroma Citrus bercampur Oceanic di dalam ruangan sempit itu. Membiarkannya menyenggrak aroma tersebut, membuatnya muak bukan main karena ia juga sangat benci menangis.

 

selesai

Notes :

  1. draf lama yang dipoles ulang wgwgwgwg
  2. mon maap kalo masih kagok yha huhu namanya juga usaha ):
  3. JUDULNYA ALAY BANGET YA ALLAH TAPI GPP SOALNYA RAISA PANUTAN Q HHE~
  4. thank you and have a nice day y’all!💕
Advertisements

One thought on “Ruang Nostalgia

  1. Heavadissia

    KENAPA HARUS ABANG KRIS YAALLAH ;;—;; mantan emang akan Indah pada waktunya mba cas, ayo move on aja, stok cogan masih banyak gausah takut kehabisan (apalagi yg muda2)

    Terlepas dari efek kalimatnya abang kris yg seolah-olah he’s okay dan atau artikel yg kubaca awal juni kemaren bagaimana kris dimata tao (yg sekarang) sama attitude kris pas ketemu sama lay jg yg bikin aku potek sama mas kris kok gitchuu //halah malah curhat//

    Menurutku tulisan Hani engga kaku kok. Masih bisa dinikmati tanpa curiga kalo “ini tulisan orang yg habis hiatus lhoo”, enggak, enggak gitu. Selanjutnya semangat menulis lagi ヾ(*´∀`*)ノ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.