Some Reasons Why You Shouldn’t Write

8faaf898cba082809bcccdfdcfaf8fbc

Nulis? Mls bgt.

 

Meski terlalu lama buat dibilang break, tapi beneran, dua tahun nggak nulis rasanya kayak sebentar banget. Balik ngeblog gini rasanya kayak masuk ke dalam ruangan yang dulu menjadi tempat saya banyak menghabiskan waktu di sana. Namun, sekarang tempat itu udah berdebu dan nggak pernah terjamah lagi. Kemudian saya sadar, kalau ternyata ruangan itu dulu pernah nyaman dan menyenangkan banget.

Kemudian saya sadar, saya kangen.

Saya kangen nulis.

 

Walaupun begitu, dalam waktu dua tahun tersebut, saya bukannya nggak menulis sama sekali, lho. Nggak lama setelah saya berhenti ngeblog, mendadak saya terobsesi sama yang namanya notebook dan jurnal. Khususnya yang lucu-lucu HEHEHEHEHEHE. Media saya menyalurkan pikiran dan isi hati pun beralih ke buku catatan. Saya menulis tangan, terkadang pula menggambar sederhana. Mulai dari hal-hal sederhana saja, hingga topik yang mengusik pikiran.

Nyatanya, kesenangan itu pun nggak bertahan lama. Lambat laun, jurnal saya jadi jarang sekali saya isi. Saya yang biasanya menuliskan hal-hal menarik yang terjadi setiap harinya, jadi malas bahkan untuk sekadar ngebuka jurnalnya. Sampai akhirnya, saya pun berhenti menulis total. Tidak di blog, tidak pula di jurnal.

Saya seperti kehilangan alasan untuk menulis, serta apa tujuan saya sesungguhnya untuk melakukan kegiatan yang duluuu nggak pernah sekali pun saya tinggalkan.

Tapi, saya mah orangnya let it flow aja.

Jadi… yaudah.

YAUDAH SAYA TENGGELEM.

 

Kalau kamu ke sini ngarepin saya memberi kesaksian bahwa “Tidak menulis berpengaruh besar bagi kehidupan saya!”… Well, kayaknya mending kamu arahin kursor ke jendela postingan ini, klik tanda silang di sudutnya, kemudian beralih ke postingan lain yang lebih berfaedah.

Sebab, dua tahun nggak menulis ternyata sama sekali nggak berpengaruh apa-apa ke kehidupan saya.

Iya, serius.

Malahan, berhenti menulis membawa saya kepada hal-hal luar biasa yang belum pernah saya temui sebelumnya. Berhenti menulis memberikan saya banyak pengalaman baru, juga pengetahuan baru yang mungkin nggak akan saya dapat kalau saya cuman nulis, nulis, dan nulis aja.

Hal inilah menyadarkan saya bahwa tidak seharusnya saya menyesali keputusan yang saya ambil pada waktu itu.

Karena ternyata menulis itu nggak perlu-perlu amat.

Dan berikut adalah beberapa alasan kenapa menurut saya kamu jauh lebih baik kalau tidak menulis. Wow, nomor 7 akan membuatmu shock!

 

#1 To get a life

Seperti yang saya bilang, berhenti menulis nggak berpengaruh banget terhadap kehidupan saya. Justru, dengan nggak menulis bikin saya punya waktu lebih untuk hal-hal lainnya.

Saya jadi banyak membaca buku, terutama karya penulis-penulis lokal. Saya pedekate dengan puisi, lalu jatuh cinta pada Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Aan Mansyur, serta beberapa sastrawan lain. Mengenal puisi merupakan perkembangan besar bagi saya, sebab selama ini saya sebatas berkutat dengan novel, cerita pendek, dan fanfiction saja (iya, saya emang sepayah itu).

Saya yang sebelumnya bukan penikmat musik, perlahan-lahan playlist-nya terisi oleh lagu-lagu dari musisi indie, seperti Fourtwnty, Danilla Riyadi, Efek Rumah Kaca, Stars and Rabbit, hingga White Shoes and The Couple Company. Saya bahkan datang ke konser musik—satu hal yang saya kira mustahil terjadi dalam hidup saya!

Saya jadi gemar melukis  asal-asalan menggunakan cat air, mencoba membuat kerajinan macramé, mengambil kursus bahasa asing, naik gunung dan pergi ke pantai, pergi ke museum dan situs bersejarah, bertemu orang-orang luar biasa, juga hal lain yang tak bisa saya sebutkan.

Hidup ya tetep hidup, nulis atau nggak nulis.

Saya tetap menikmati alurnya, lika-likunya, naik turunnya.

Sayangnya, saya cuman berakhir jadi penikmat saja.

Maksud saya, ketika saya nggak menulis, di blog maupun di jurnal, hidup akan tetap berjalan seperti biasa, layaknya manusia-manusia lain juga. Akan tetapi, semua itu hanya akan menjadi hal-hal yang saya alami semata. Atau kalau beruntung, hal-hal yang akan saya ingat dan kenang di masa mendatang.

Dan, ya, cuman itu.

Nggak istimewa.

Simply,

When we don’t write, we seize the moment. But when we write, we don’t only put it into words, we romanticize it, and give it meaning.

Gimana pun juga, akan selalu ada cara untuk menjadikan hidup lebih berkesan.

Tiap-tiap manusia pasti ingin menghargai setiap momen dalam hidup mereka dengan caranya masing-masing. Maka, bila kamu berpikir bahwa menulis bukan salah satunya, entah karena kamu sudah menyukai hidup begini adanya atau punya cara yang lebih asyik untuk memaknainya…

Jangan menulis.

 

#2 You’ll never finish what you write

“Milea, jangan bilang kepadaku ada yang ngomong ke kamu kalau menulis itu gampang, nanti, besoknya, orang itu akan hilang.” – Dilanda Writer’s Block, 1990

Menulis itu nggak gampang, apalagi menyelesaikan apa yang kamu tulis.

Ada sih nulis yang gampang banget. Nulis komentar hate speech di sosial media, contohnya… HHHHHHHHHHHHHHH ):

Salah satu penyebab saya memutuskan berhenti menulis adalah saya nggak pernah bisa menyelesaikan apa yang saya tulis. Atau bahkan nggak bisa menuliskannya sama sekali. Keduanya sama-sama menyebalkan.

Ide-ide yang muncul di kepala saya bikinin daftar di lembaran kertas. Niatnya bikin writing prompts buat sewaktu-waktu dikembangkan jadi tulisan. Tapi… sama sekali nggak mempan, dong! WKWKWKWK ):

Lebih-lebih, saya orangnya mudah terdistraksi dan moodnya ilang-ilangan. Jadi ketika saya udah buntu, ya udah nulisnya bakalan macet dan susah banget untuk lanjut lagi.

Nah, ini nih.

Kesalahan saya selama ini adalah, di saat-saat seperti itu, saya cenderung memaksakan diri. Pokoknya nggak mau tau gimana caranya, tulisan yang saya mulai tersebut wajib fardhu’ain untuk segera diselesaikan!

Bahkan ketika sebetulnya saya sedang nggak ingin menulis apapun, saya tetep nggak peduli. Akhirnya, karena tekanan yang saya bentuk sendiri itulah, saya jadi jenuh.

Dan tulisan itu pun saya tinggalkan begitu saja.

Atau, kalau saya udah bener-bener jengkel… yha…

Saya hapus.

*pathetic laugh*

Padahal, tulisan yang belum tuntas bukan berarti nggak akan bisa dituntaskan. Mungkin memang pada waktu itu ide lagi mampet, nggak ada mood, lagi males, atau juga jenuh… but that’s okay. Nggak apa-apa untuk berhenti, lalu memulai tulisan yang baru lagi. Nanti, bila idenya muncul kembali dan suasana hati sudah membaik, boleh deh dilanjut lagi.

Soalnya, sesuatu yang dipaksakan biasanya akan berakhir dengan nggak baik.

Jadi, kamu bagaimana? Apakah menulis karena ingin atau terpaksa? Kalau terpaksa, mending jangan nulis, deh. Berhenti. Berat. Biar aku yang lain saja.

 

#3 Not everyone will love you… and your writings

Ini mendasar banget, sebetulnya. Tapi buat saya duluuu, hal ini lumayan susah diterima.

Dua tahun lalu saya berhenti menulis lantaran merasa terbebani oleh kegiatan tersebut. Saya iri aja gitu, sama orang-orang yang bisa menikmati proses menulis dengan menyenangkan. Like, HOWWWWW????? Soalnya saya nggak bisa begitu HUHUHUHU ):

Saya dulu juga heran, kenapa sih saya bisa leluasa nulis di jurnal pribadi saya, tetapi tidak di blog?

Barulah, setelah melalui perjalanan spiritual dalam mencari jati diri yang panjang ((NGGAK)), saya tersadar. Kesalahan besar saya yang lainnya perihal tulis menulis adalah:

Saya menulis untuk orang lain.

Literally…

Ini krusial banget, bikos it has impacted my whole writing life ((cielah)). Saya ingat, dulu sebelum menulis saya selalu berpikir “pembaca bakal suka nggak ya?”, “apa kata orang lain kalo habis baca?”, “eh emang tulisanku bakal dibaca nggak, sih?!”. Tak hanya itu, bahkan dalam proses menulis suatu tulisan pun, saya masih juga mikir “ini kalo dibikin begini bagus gak?”, “apa enaknya begini aja ya biar orang seneng?”, “eh tapi kalo begini nanti dibilang gak masuk akal”. Dannnnn masih berlanjut sampe tulisannya selesai dan siap diposting, saya tetep bertarung sama pikiran sendiri.

“DIPOSTING NGGAK YA??????”

Rasanya kalo inget tuh pengen balik ke saya versi dua tahun lalu, tarik kupingnya, terus bisikin: “ya terus ngapain dari awal elu pusing-pusing, Han????”

HEUHEUHEUHEU.

Saya ngerti sekarang mengapa menulis di jurnal pribadi rasanya lebih enteng daripada menulis di situs pribadi. Sebab, saya tahu kalau tulisan yang saya posting di sana akan dibaca oleh orang lain. Oleh karena itu, perlahan-lahan saya membentuk mindset salah bahwa sesungguhnya saya menulis untuk orang lain.

Lebih-lebih, saya menulis untuk menyenangkan orang lain.

Wicis… impossibruh gitu loh gais… kek… aku tuh… aku… wellclearly lah… kek we all nggak bisa gitu… bikin everyone happy… never… ya bikos… basically kita tuh… kek apa ya… I mean… literally…

((lalu sedunia auto boikot Hani)) ((oke stahp))

Perkaranya adalah kita nggak akan bisa bikin semua orang senang.

Tapi kita bisa bikin diri sendiri senang, tanpa harus merenggut kesenangan orang lain.

Makanya, konyol aja ketika ngerasa “kenapa sih tulisanku masih kurang?”, “kenapa ya tulisanku nggak sebagus dia?”, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mencerminkan kekhawatiran untuk tidak disukai dan diterima oleh semua orang. Sebab pada kenyataannya hal tersebut memang mustahil. Lagipula, membanding-bandingkan karya orang lain dengan karya sendiri juga nggak akan pernah membuatmu jadi lebih baik.

Dan, menurut saya, menulis seharusnya menjadi tempat di mana saya, juga kamu, bebas menjadi diri sendiri. Tempat di mana kita bisa mengungkapkan ide segila dan seliar apapun, juga perasaan paling tersembunyi sekali pun. Seharusnya, menulis adalah sesuatu yang membebaskan serta melapangkan, bukan malah menjadi beban di atas pundak kita.

Itulah kenapa.

Jangan menulis.

Jangan pernah menulis untuk alasan apapun atau siapapun. Sebab, jika kamu kehilangan alasan itu, tulisanmu pun tidak akan lagi berarti. Menulislah untuk dirimu sendiri.

Menulislah karena kamu mau. Menulislah karena kamu mencintai apa yang kamu kerjakan, dan akan selalu begitu.

That way, nothing will ever stop you from writing.

 

#4 Everything will no longer be personal

Ketika kamu menulis dan tulisanmu dibaca orang lain, apa yang kamu tulis itu tidak akan jadi milikmu sendiri lagi.

Beberapa akan merasa baik-baik saja karenanya, bahkan lebih senang bila demikian. Namun, beberapa yang lain justru merasa tidak nyaman, seperti privasinya diusik oleh orang lain.

Sebetulnya ini tergantung pribadi masing-masing, sih. Untuk beberapa alasan tertentu, terkadang saya merasa nggak nyaman ketika tulisan saya dibaca orang, lebih-lebih orang terdekat saya. Rasanya kayak seseorang baru saja masuk ke kamar saya tanpa izin, terus dia lihat-lihat apa saja yang ada di sana dengan dengan santai, persis kayak lagi di pameran lukisan.

Nahhh, kayak gitu tuh rasanya.

Asli.

Meskipun demikian, siapa yang menyangka kalau ternyata diam-diam sesungguhnya kita berharap sekali tulisannya dibaca?

Kata Cak Nun, manusia memiliki naluri untuk saling berbagi, saling menyejahterakan. Dan itulah mengapa saya yakin bahwa setiap orang ingin berbagi apa yang dia pikirkan dan rasakan dengan orang lain. Salah satunya ya melalui tulisan.

Bahkan ketika kita menulis curhatan di diary yang sifatnya rahasia sekali pun, sebenarnya kita berharap curhatan tersebut dibaca oleh orang yang bersangkut paut. Cuman, nyalinya aja yang sedikit, atau mungkin beberapa hal emang lebih baik disimpan untuk diri sendiri.

Setiap orang yang menulis ingin tulisannya dibaca.

Atau kalau tidak pun, kita tidak ingin tulisan kita dibaca oleh orang lain… kecuali diri kita sendiri.

Bagi saya, menulis adalah salah satu dari sekian banyak cara kita berbagi. Berbagi apa saja, dengan siapa saja.

Writing is a way to share what you have, without losing anything.

Perihal apa yang ingin kamu bagikan ke orang lain atau tidak, kepada siapa kamu akan membagikannya, untuk apa, dan bagaimana… semua itu terserah padamu.

Jika menurutmu apa yang kamu alami, pikirkan, dan rasakan lebih baik bila tidak ditulis… ya, jangan ditulis.

Jika menurutmu apa yang telah kamu tulis itu lebih baik bila tidak dibaca dan dibagikan kepada orang lain… ya, simpan baik-baik.

Pada akhirnya, semua ialah pilihan kita masing-masing.

 

#5 You have to find your purpose

Bagaimanapun juga, setiap hal yang kita lakukan harus punya tujuan.

Mengapa kita makan? Supaya nggak kelaparan. Mengapa kita minum? Supaya nggak kehausan. Mengapa kita istirahat? Supaya nggak capek. Mengapa kita bernapas? Supaya… bisa hidup sama-sama terus lah, hhe~ ((NGGAK HAN TUWOLONG YA))

Kalau hal-hal mendasar seperti itu saja memiliki tujuan, menulis pun semestinya juga memiliki hal yang sama. Kata Buya Hamka, “Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja.”

Demikian pula dengan menulis.

Kalau menulis sekedar menulis, anak-anak TK yang baru belajar huruf alfabet pun juga menulis di buku kotak-kotak.

So here’s the one million dollar question :

Mengapa kita menulis?

Saya sendiri belum menemukan tujuan apa sesungguhnya yang mendorong saya untuk menulis. Selama ini, saya merasa bahwa menulis adalah pelarian. Menulis ialah cara saya melarikan diri dari dunia yang, kadang-kadang, dipenuhi hal yang menghalangi saya jadi diri sendiri. Dunia yang terkadang dipenuhi kepura-puraan. Ketika menulis, saya merasa tidak menemukan semua itu. Hanya diri saya yang asli, pikiran-pikiran bebas, dan perasaan yang jujur.

Namun, apakah saya semata menulis untuk kesenangan pribadi saja? Adakah hal lain yang membuat saya ingin terus menulis? Apakah sebetulnya yang ingin saya berikan melalui tulisan-tulisan saya?

Saya…nggak tau.

Belum.

Dan, nggak apa-apa meski saya belum tahu.

Demikian juga dengan kamu. Kalau kata generasi millenial mah, jalanin aja dulu, siapa tahu cocok ketemu. Mungkin tidak sekarang, mungkin di tengah jalan, atau suatu hari nanti, ketika kamu sudah tidak lagi menunggu-nunggu… Siapa yang tahu?

If you think that you haven’t found your purpose, just keep writing…

Or not.

Because eventually, you will.


 

YEAAAAYYY FINALLY THAT’S IT, I THINK??????

And I just realized that it’s a pretty long post HAHAHAHA. Seems like I’m soooooo overjoyed to start doing this thing again???!!!! 

Iya iya… nomer 7 nggak membuatmu shock, soalnya ini emang nggak sampe nomer 7. Iya iya… itu biar kayak artikel-artikel di luar aja gitu, biar ada clickbait-nya hhe~ ):

Saya mohon maap lahir batin pabila tulisan ini sedikit memberi faedah dan banyak menyia-nyiakan waktu kelan huhuhuhu. Sungguh, tiada lain maksud saya kecuali berbagi apa yang saya peroleh dari dua tahun tidak menulis ):

Jadi, yah… gimana gimana?

Kalau menurut saya, sih, menulis masih nggak perlu-perlu amat, nggak dilakukan pun juga saya nggak akan kenapa-napa.

Tapi saya suka, tuh. Dan saya rindu. Saya ingin, dan saya butuh, dan semoga selalu begitu.

Kalau kamu? ((:

Advertisements

7 thoughts on “Some Reasons Why You Shouldn’t Write

  1. Heavadissia

    your post describe me a lot.
    aku sangat setuju sampe ngga tau mau ngomong apa lagi. Kadang kala ketika nulis pun aku kaya kehilangan diriku sendiri dan ngga tau kenapa aku nulis dan kenapa aku masih menulis. Kadang pas ngga nulis sangat ingin kembali menulis tapi ngga tau apa yang harus ditulis–mungkin ada, karna otakku ga pernah berenti berpikir dan ga pernah berhenti berskenario–cuman ga tau bagaimana harus menulisnya.
    tapi aku juga kangen tulisan hani. aku tau hani dari di exo fanfiction apa dimana ya aku lupa, pokoknya sudah sangat lama, mungkin 2014-2015 atau 2016. Semoga kamu bisa sering kembali menulis lagi.

    • Hani

      kak nanaaaa❤

      huhuhuhu, i know righT. dan perasaan itu ngga dateng sekali dua kali tapi sering. paling sebel juga waktu lagi banyak ide tapi buat mikirin kata-kata aja kayak susah banget HUVT.

      deuh kak nana i’m soo glad to come back and see you again. makasih banyaaak. kak nana pun semangat menulis selaluuu! luv❤❤❤❤

  2. S. Sher

    THIS THIS THIS! Wait ya aku mau komen panjang sebenernya, cuman sebisanya dulu sekarang.

    Menurutku, writing isn’t for every people, so does running, law, and many other things. Dan yang paling perlu kita kerjakan banget-banget adalah apa yang kita prioritaskan di real life, apa yang penting. Melupakan hidup kayak gini sementara atau selamanya, as long as kita bisa hidup dengan fine itu gak masalah.

    Dulu setiap ada yang nanya, “Kak lagi gak mood nulis, gak ada ide.” etc etc, aku selalu bilang istirahat dulu/tulis aja apa yang kepikiran dan di post, but right now, biasanya diskusi kayak gitu kalau yang nanya masih apa ya … agak childish mungkin, aku gak bales. Karena bilang, “Maybe writing isn’t for you.” is kinda harsh; yet the truth is, some thing isn’t just for everyone, at least at a point.

    So, I miss you, tapi kalau kamu merasa lebih baik dengan gitu, and it’s great ❤️❤️

    • Hani

      KAK SHER KAK SHER KAK SHER

      “writing isn’t for everyone” SETUJU PARAHHH. ini kalo ada tombol thumbs up buat komennya kak sher kayaknya aku mau teken 34294289x deh. and yes, as i said menulis bukan satu-satunya cara buat memaknai hidup. i mean ada orang yang ngegambar, ngelukis, motret, atau yang tinggal jalanin gitu aja… and they’re okay with that. tapi ya gimana ya mau seberapa suka pun kita sama sesuatu, pasti tiba masanya merasa jenuh dan bosen.

      wkwkwk i used to be the one who asked those questions. and now that i figured out the answers… it’s like… w0w whaT hAve i dOne wiTh mY Lyfe )): ga ngerti lagi aku setuju banget sama komenan kak sher sampe bingung mau bilang apa. well said!

      same goes to you, kak sher. thank you so much and please be happy❤

  3. Lt. VON

    HONEEYYYYYYYYYYY OH HANIIIIIIIIIIIII~

    INI GIMANA YA BILANGNYA YA INTINYA AKU MAU BILANG INI RELATABLE JUGA SAMA AKU DAN I KNOW HOW YOU FEEL. MAU BILANG MAKASIH JUGA KARENA HANI SUDAH MENULISKAN APA YANG JUGA KURASAKAN NAMUN TAK DAPAT KUTULISKAN KARENA AKU BINGUNG MENGURAI PIKIRAN INI DARI MANA KE MANA DAN WOOOOOWWWWW HARI INI AKU BACA TULISAN INI JADI IKUTAN BERASA LEGAAAAA ♡ THANKS A LOT HAN!

    Kusenang mengetahui bahwa Hani bisa menikmati dan mengeksplor lebihhhh banyak dan beragam hal selama vakum nulis. Meski ada satu hal lama yang ngga lagi digandrungi tapi akhirnya jadi punya banyak pengalaman lain. Karena aku pribadi juga lebih suka memanfaatkan waktu untuk hal lain misal hobi lama udah ngga bisa dinikmati, daripada buang waktu memaksakan diri menyukai hal yang sama terus.

    So that’s it. Sukai apa yang lagi ingin kamu sukai. Jadikan waktu berguna. Niscaya ngga akan ada yang sia-sia 🙂

    Semoga selalu bahagai ya, Hani ♡_♡

    • Hani

      KAK FILZA OH KAK FILZAAAAAA~~~

      OMG OMG AKU BACANYA NGGAK NAPAS HAHAHAHAHA TAPI KU SENANG PABILA KAK FILZA JUGA IKUT LEGA BACANYA KAYAK GIMANA YA INI TUH UNEG UNEG YANG TERPENDAM UDAH LAMA BANGET DAN BARU BISA DIKELUARIN DAN RASANYA ASLI CESSS PLOONGGG XIXIXIXIXI :”)

      “So that’s it. Sukai apa yang lagi ingin kamu sukai. Jadikan waktu berguna. Niscaya ngga akan ada yang sia-sia 🙂” YESS I COULDN’T AGREE MORE. kayak apa sih perihal kesukaan itu kan pribadi masing-masing ya. kalo sukanya karena ikut-ikutan dan terpaksa kan nga ena juga buat diri sendiri heuheu jadi yha break itu perlu tapi kayaknya kalo kayak aku mah kelamaan yha WKAKAKAKA.

      duh kak filzaaa makasih banyak yaaaa. semoga kak filza pun selalu bahagia dan semangatsss. luvluv❤❤❤❤

  4. liakyu

    Yaampun, ini sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat aku banget :((((( bacanya sampe literally mau nangis.

    Aku malah gatau terakhir aku nulis kapan. Setelah lepas dari menulis di blog sendiri dan blog komunitas, aku ngerasa… bebas. Biasanya kan kalo nulis, apalagi buat blog bersama, diwajibkan gitu ya gak sekali sebulan. Kalo udah stop, kayak macem siswa baru lulus kerja/kuliah gitu; bebas PR! Otak yg biasanya berat brainstorming jadi ringaaaan. Like gak perlu banyak mikir, ya walaupun ide ada tapi kan itu mentah dan harus diolah gitu biar enak dibaca toh. Terus dulu kalo nemu istilah baru, pasti langsung buka kamus dan dicatet, in case suatu saat butuh buat bahan nulis. Kalo skrg kalo nemu mah sekadar oiya tau aja trs dilupakan HAHAHA.
    Krn gak nulis jadi banyak waktu buat fokus kerja, dengerin musik yg sebelumnya gak pernah kutau ada(sedang menggandrungi the beatles dan musik 60an lainnya), baca buku (tapi skrg lg gak gitu mood), maen game, nonton film, nongkrong sama temen. Tapi tetep sih, sekali-kali kayak kangeeeeeeen gitu sama nulis, tapi krn gatau mau nulis apa jadi cuma nulis kegiatan sehari-hari haha. Dan kalopun ada yang fiksi, aku balik lagi ke fase “ah gak pede ah”
    Dan aku sadar selama ini aku ternyata menulis buat orang lain juga :((

    Enw maaf ya aku ngeracau parah Hani. Thanks sudah membuat tulisan ini. Lav ya~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.