Trompet

20141227164709852

Tanggal 31 Desember selalu disapa dengan istimewa. Nyaris tujuh miliar manusia dari berbagai belahan bumi telah menantikannya sejak tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu. Sebab pada malam ini, tahun akan segera berganti. Kalender-kalender lama hadiah selepas beli kulkas siap dirombengkan, pula dengan segala kekhilafan yang pernah dilakukan pada hari-hari nan lampau.

Seperti biasa, perpindahan tahun selalu disambut dengan gegap gempita. Jam tua di dinding membawa jarum detik menuju peralihan ke tahun kabisat, 2016. Kendati detaknya agak kelambatan (karena baterainya sudah sekarat), para insan ribut berpesta pora. Katanya, “Kami akan jadikan tahun 2016 lebih baik!” Lantas ikan-ikan dari pasar dan jagung-jagung dari ladang dibakar di atas arang. Baunya barangkali menyeruak hingga ke awang-awang.

Jalan-jalan pun ditutup, seolah memang malam itu muka bumi disewa khusus buat mereka yang merayakan tahun baru. Dari seluruh penjuru dunia, terdengar sorak sorai penuh kegembiraan yang berasal dari arak-arakan umat manusia. Tak lupa, sumbu-sumbu kembang api maupun petasan disulut pula supaya meledak. Suaranya yang bikin pekak terbayar oleh kaleidoskop warna-warni yang tampak di angkasa. Namun semua itu ternyata masih mampu diganyang oleh suara trompet-trompet—yang dibeli dari pedagang yang menjamur di pinggir jalan.

Semakin larut maka semakin ramai, itu sudah hukumnya. Tatkala jarum jam telah menanjak angka dua belas, bareng-bareng mereka meniup trompet aneka warna dan bentuk di tangan. Trompet yang paling cilik suaranya cempreng dan jelek. Trompet berukuran sedang dan berharga paling murah lima belas ribu itu suaranya cukup nyaring, tetapi tak begitu enak. Sementara trompet berbentuk naga ataupun saksofon raksasa bunyinya amat lantang dan merdu—jelas karena mahal. Rasanya seperti mendengar Kenneth Gorelick memainkan alat musik andalannya sepanjang masa.

Semua bak tengah berlomba-lomba. Barang siapa meniup trompet paling keras, maka hadiahnya adalah dunia dan seisinya.

Akan tetapi, tanpa mereka tahu, ada sosok lain yang senantiasa turut serta dalam perayaan akbar tahunan tersebut. Kehadirannya yang setiap saat tak diketahui banyak orang—atau lebih tepat lagi, tak disadari.

Sementara itu, ujung trompetnya telah berada dalam mulut semenjak alam raya diciptakan. Jangan berani bandingkan trompetnya dengan trompet mana pun. Sebab trompet yang diamanahkan kepadanya itu berupa tanduk raksasa yang terbuat dari cahaya. Keempat cabangnya masing-masing menghadap ke arah barat, ke arah timur, ke bawah bumi, dan ke langit ketujuh. Lingkar kepala trompetnya seluas langit dan bumi.

Namanya adalah As-Shur, sebuah sangkakala.

Maka apabila Allah memerintahkan Israfil untuk meniup sangkakala tersebut tatkala hari kiamat telah tiba, matilah seluruh makhluk yang berada di langit maupun bumi, kecuali siapa yang Allah kehendaki.

Ketika dibunyikan sangkakala pada kali pertama, manusia bagaikan anai-anai yang bertebaran. Lautan menggelegak dan mendidih dan meluap. Bumi digoncangkan dengan dahsyat, mengeluarkan beban-beban berat yang dikandung di dalamnya sampai kosong. Gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya sehingga jadilah ia debu yang beterbangan. Sementara itu, langit terbelah, matahari digulung, bulan kehilangan cahayanya, dan bintang-bintang jatuh berserakan.

Kemudian pada tiupan kedua, tulang belulang manusia dikumpulkan. Ruh-ruh dipersatukan kembali dengan jasadnya, lalu bangkitlah mereka dari kubur untuk menanti keputusannya masing-masing.

Lantas, bagaimanakah apabila Israfil ikut meniup trompetnya tatkala tahun baru menjelang? Bagaimanakah apabila malaikat Allah tersebut tergelitik untuk meniup trompetnya pula—karena ia cemburu dan masygul akan kelalaian manusia terhadap presensinya? Terhadap janji Allah yang pasti akan terlaksana? Terhadap hari kiamat?

Namun baiknya, malaikat tak punya selera humor, dan mereka adalah makhluk yang paling taat dan tunduk terhadap Sang Pencipta. Maka sangkakala Israfil tidaklah berkumandang malam ini sebab Yang Maha Kuasa belum menghendakinya. Allah masih menghendaki kita, para bani Adam, untuk mengganti almanak lama dengan yang baru, untuk membiasakan diri dengan kekeliruan saat menulis tanggal di pojok surat, untuk membenahi diri menjadi manusia sekaligus hamba-Nya yang baik, untuk menjadikan kehidupan ladang amal dan pahala sebagai bekal pada hari akhir kelak.

Untuk merasakan kembali keberkahan hidup hingga saat ini, detik ini, menit ini, jam ini, hari ini, bulan ini, tahun ini…

Jum’at, 1 Januari 2016.

Advertisements