The Misspoken Word

love-think-think-about-you-truth-typography-want-Favim.com-55715

p.s:

13 out of 10 dentists recommend this fic to be put in the dustbin.

Aku tahu dia nggak mau melakukannya.

“Aku kepingin ganti peran…”

“BERHENTI MENGELUH DAN CEPAT MAINKAN ADEGANNYA KARENA SIANG SUDAH MULAI PANAS!”

Ketua kelompok kami yang merangkap pula sebagai sutradara dalam tugas membuat film pendek ini mengomel habis-habisan. Ia jengkel bukan main, sama seperti sembilan anggota kelompok lain yang tidak kebagian adegan di tempat yang satu ini.

Memangnya siapa yang tidak?

Sudah take ketujuh belas dan Io sama sekali tidak serius dalam melakoni perannya. Selalu saja ada hal yang menghambat jalannya proses pengambilan gambar. Entah itu Io yang mendadak lupa dialog atau Io yang mendadak ketawa kayak orang nggak waras.

Sementara Quinn, pasangannya dalam film yang masih berdiri di taman sambil menahan terik, sudah nampak tak sabaran; boleh jadi dia tega melempar kepala Io dengan sandal Crocs miliknya detik itu juga.

Kulihat Io sempat melirik ke arahku, lantas buang pandangan, hingga sedetik berikutnya kedua netra lelaki tinggi tersebut bertemu kembali dengan milikku. Biar kutafsir sebentar, tatap itu pasti berarti: “Ayolah, bantu aku, dong.”

HAHA.

Aku nyengir. “Tenangkan dulu dirimu. Kalau ngomong jangan tergesa, aksen lokal aslimu itu kedengaran sama sekali tidak lucu, asal kau tahu.” ungkapku.

Dia ketawa.

Terus take kedelapan belas hendak dimulai. Si sutradara telah siap dengan handycam di tangan, pula dengan Io dan Quinn yang berdiri berhadapan di tengah taman. Sementara kami menyaksikan dari kejauhan sambil berdoa agar kali ini segalanya berhasil.

Keduanya saling bertatapan. Io dengan tatap sendu, Quinn dengan tatap berapi-api. Dan, yah, meski tidak begitu kentara aku paham mereka sama-sama merasa nggak nyaman.

“Kamu tahu? Aku kecewa, Ndy,” ungkap Quinn—eh, bukan, bukan, sekarang namanya Alya. “Aku mempercayaimu dan sekarang kamu merusak kepercayaanku begitu saja. Kamu tidak menepati janjimu, Ndy. Kamu pembohong.”

Suara Quinn terdengar sengau, matanya juga mulai berair. Kayaknya ia betul-betul mendalami karakternya sebagai Alya yang sedang kecewa. Hebat.

“Maaf, aku tidak bermaksud begitu,” kata Io—eh, Randy. Huft. Aku harus membiasakan diri, agaknya. Apalagi ketika Randy menggenggam pergelangan tangan Alya. “Aku benar-benar lupa janjiku untuk datang ke pertunjukkan teatrikalmu semalam dan aku amat sangat menyesal. Maafkan aku, sungguh. Aku tidak bermaksud untuk mengecewakanmu.”

Aku dan yang lainnya nampak lega. Kali ini mereka pasti berhasil. Jadi kami bisa segera enyah dari tempat yang panas ini ke tempat yang lebih dingin seperti warung es Kelapa Muda atau semacamnya.

“Aku benci kamu!”

Sang gadis menyentak tangan lelaki di hadapannya kemudian berbalik. Tetapi rengkuhan Io (ayolah, mari kita ambil gampang semua ini) lebih kuat. Terus ia menusuk Quinn dalam-dalam menggunakan sepasang biner miliknya, membuatnya tak bergerak barang sedikit pun.

Semuanya nampak girang menyaksikan hal tersebut. Berteriak gembira dalam diam sebab penderitaan kita bakal berakhir sebentar lagi.

Io tersenyum. “Kamu tidak akan bisa membenciku,” kata Io penuh keyakinan. “Karena kenyataannya kamu tidak pernah melakukannya.”

Quinn terhenyak.

Jeda beberapa saat.

Kami semua menanti.

Ini bagian klimaks.

Aku tahu ini lumayan berat buat Io.

Aku bahkan tahu—tahu saja—dia sempat mencuri pandang ke arahku.

Io menelan ludah pada akhirnya.

Kami tiba-tiba merinding disko.

Terus Io buka mulut.

“Aku mencintaimu, Sal.”

.

.

.

.

.

“YAAAAAAAASSSS! KITA BERHASIL! SUDAHI SEMUA OMONG KOSONG INI KARENA—tunggu…”

Dahi sutradara berkerut.

Semuanya mengakhiri euforia mereka dalam sekejap.

Quinn ternganga.

Io sendiri juga nampak terkejut.

“…tadi kamu nggak bilang ‘Al’, kan? Alya? ‘Sal’? Siapa ‘Sal’?”

Io mengerjap, lalu menunjukkan seringai mirip kuda paling menjengkelken sedunia. “Ehe. Ulang?”

Seketika kehendak untuk mengantongi Io dalam karung dan membuangnya ke parit terdekat melejit tanpa ampun.

Selagi yang lain menyembur Io dengan beragam kata-kata jelek, ada aku di sini.

Yeah.

Terdiam.

Bahkan ketika Io menatap ke arahku di sela-sela penyiksaan si sutradara yang bertubi-tubi ia berikan kepadanya, aku masih kehilangan kata-kata, padahal mulanya aku punya banyak untuk persediaan jutaan tahun.

Aku nggak ngerti mengapa, tetapi seolah para kupu-kupu mengundang seisi kebun binatang untuk mengadakan Prom Night di dalam perutku dengan debaran jantung sebagai DJ-nya. Aku yakin mukaku memerah nyaris ungu sekarang. Dan senyumku rasanya tak tertahankan.

‘Sal’.

Hei, namaku kan Salsa.

end.

time killer pffft idk tho.

Advertisements

5 thoughts on “The Misspoken Word

  1. liakyu

    first first first! Yeay yeay yeyeyeyeyeyey ngakak like there’s no tomorrow /jadikamugausasekola/ HAHAHAH. Tendang aja aku, okesip.
    (ngakak lagi)
    Yaampun ini ngocok isi perutku syumveh. Io-nya kok kunyel banget yaaah haha. Rasanya pengen nangis juga aduh udah panas-panasan, penuh perjuangan, capek, lelah, letih, lunglai, lesu bla bla malah mesti ulang lagi fiyuh, kejamnya hidup, bro.
    (ngakak lagi)
    Tapi setidaknya ciyeee kok fluffing di ending? Aku udah nebak si ‘aku’ ini emg ada apa-apanya dengan si Io, tapi aku bahkan gasadar dialognya pake Sal! Duh ketauan ga jeli ya daku ini.
    bahasa kamu han, enak banget, bener-bener kayak baca terjemahan taaau! Tulisan kamu worth-to-read semua, ketjeh bgt yaolo lol. Kosakatanya beragam gitu, dibaca berkali-kali gabosenboseen xD
    Duh, gila kali fic sebagus ini dibuang ke dustbin ._. Komen aku aja nih yang dilambungkan ke sana (cengengesan)

    very nice fic, han!
    Luv yaaa~

  2. dhaneestoryi

    AH TIME KILLER APA BAGAIMANA SAL HAHAHAHHAHA HANI ASTAGAAA
    aku kok merasa ini curhat terselubung ya….
    Overall, ini ceritamu yang fresh lho haaha.. ini gak kaya bahasamu tapi ini tetep gayamu! Ini gayamu bgt yang bikin orang—termasuk aku yg baca—nyengir kuda, ketawa, dan senyum HAHAHAHA
    ciyeee salsa:”” hani ciyee:”””

  3. ranee

    HANIHANIHANIHANI //gitu terus sampe lebaran
    INI PERTAMA KALINYA AKU BACA NON-FANFICTION BUATANMU KAYAKNYA >.<
    Tapi ini bagus dan fresh sangat dengan gaya humormu yang khas itu! Jadi ini ceritanya keceplosan gitu ya aduh makanya cinta jangan kelamaan ditahan malah jadi keceplosan di saat yang tidak diharapkan gini XD
    Nice one, Hani! Keep it up, ya 😀

  4. slovesw

    Io-nya kebawa perasaan YHAAAAAAAAAA:>

    ini pasti curhat ini pasti curhat!!!! wkwkkwkwkw ini bahasanya orific banget, terus ya ala anak muda gitu meskipun pake non-baku tapi kesannya nggak maksa gitu. ngalir aja bawaannya. waktu si Io-nya bilang ‘sal’ aku kaya, “LAH IKI JAN-JANE MAS-E NYADAR PORA” LOL

    btw.. asique & imut bgt iniiii:””D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.