Of a Depression and Espresso

tumblr_napkj8p7vg1teiv9io1_500.png

(n.) OCD

Obsessive Coffee Disorder

Kalau kau mau dengar cerita sedih, oke, Wu Yifan lumayan baik dalam melakoni perkara yang satu itu. Sebab, asal kau tahu, ia dibesarkan dalam dunia bernas derita. Dan Yifan tentu saja punya segudang kisah sedih—yang apabila dibukukan akan menjadi dua puluh tujuh jilid berbeda, barangkali—untuk diceritakan bersama alun Moonlight Sonata milik Beethoven. Jadi sebaiknya kau beli satu kotak tisu, soalnya kau bakalan menangis. Percaya, deh.

Bukan karena merasa pedih.

Melainkan ketawa.

Ha.

Lucu, tidak?

Oke, jadi, Yifan—terpaksa—harus kehilangan sesuatu. Lelaki itu kehilangan sesuatu. Lantas sesuatu yang hilang tersebut mengakibatkan sesuatu-sesuatu yang lainnya turut menghilang pula dari diri Wu Yifan; semisal kerasionalitas atau bahkan kewarasannya.

Mula-mula, Yifan memang tidak apa-apa. Berupaya meninggalkannya tentu mudah. Meski terbangun di pagi hari menjadi agak terasa kosong dan melankolis, setidaknya dia masih berpotensi dinyatakan baik-baik saja.

Hidupnya tetap berjalan dengan normal (dan membosankan, kau tahu itu). Matahari tetap terbit dari Timur ke Barat, Bumi berputar pada porosnya, Jupiter masih betah tinggal di Galaksi Bimasakti dan tidak mengindikasikan tanda-tanda kalau ia bakal hijrah ke galaksi lain barang sedikit pun. Atau, kalau boleh ambil contoh yang lebih sederhana, Yifan masih bisa merasakan hawa dingin sekaligus bau lembab karpet ruang kantornya yang khas, berkedip ke arah Jessica di seberang kemudian duduk di kursi putar, serta menggertakkan tulang leher sebelum mulai merevisi tumpukan naskah sebagai sesaji sarapan paginya.

Lihat?

Yifan baik-baik saja.

Namun, sejujurnya, Yifan tidak baik-baik saja.

Tidak. Hari-hari berlangsung dengan sedikit aneh. Maksud Yifan, baiklah, dia sudah memeriksa kompor sebelum berangkat kerja, memakaikan gel pada rambutnya, membenahi ikatan dasi, atau menerapkan sistem 3S—Senyum, Sapa, Salam—pada resepsionis di depan pintu masuk (meski kali ini dengan agak malu-malu); seperti biasa.

Meskipun begitu, tetap saja.

Tetap saja semua ini terasa salah; kurang; tak lumrah. Sesungguh pun Yifan mencoba untuk melupakan, melupakan, melupakan, dan melupakannya.

Sial.

Melakukan memang tak semudah bicara saja, harusnya ia mengerti itu.

“Belakangan kau nampak tak biasa,” kata Luhan.

Salah sekali apabila Luhan mengungkap hal semacam itu larut malam begini. Tatkala tubuh Yifan telah berdemonstrasi untuk memperoleh hak istirahatnya, namun pikirannya berkata lain. Tinggal dua-tiga halaman lagi.

“Lantas apa? Luar biasa?” tanya Yifan sembari menyugar rambut, menahan jemari sejenak di sana, memberi pijatan-pijatan relaksasi dari dirinya, oleh dirinya, dan untuk dirinya.

“Entah, tetapi kupikir, gusimu—tidak, maaf, jangan denda aku lima ribu—maksudku, ketawamu jarang kelihatan. Kau kelihatan begitu serius belakangan ini sampai-sampai mukamu mirip kemeja pria bujang yang tak disetrika pada hari Senin. Kau nampak murung. Dan mestinya kau tahu, wanita benci pria layu.”—Luhan nyengir—“Bercanda. Kau butuh istirahat.”

Ya, mungkin memang begitu. Yifan butuh istirahat. Maksud Yifan, istirahat sungguhan. Bukan jatah tidur delapan jam yang dikorupsi hingga bersisa tak lebih dari separuhnya. Tapi, hei, dia sudah bertahun-tahun mengabdi pada pekerjaan-mencari-cari-kesalahan-orang ini.Dia pasti sudah kebal dengan pegal pada tulang pinggang maupun ekor, bukan?

Yah.

Yifan tahu, bukan istirahatlah yang ia butuhkan sekarang.

Sial.

Tidak lagi.

Lupakan.

Lupakan.

Lupakan.

Jangan pernah mengizinkan hal itu berkelebat di otakmu, Wu Yifan. Yifan tidak boleh kembali padanya. Tidak boleh. Cukup sudah. Hentikan.

Alihkan perhatian. Pada apapun. Oke. Kembali ke naskah Do Kyungsoo. Si Pria Jenaka itu pandai berkelakar melalui tulisannya. Beberapa waktu kemudian, cengiran Yifan muncul. Terus dia ketawa. Betul-betul ketawa. Ketawa yang terdengar ‘hahaha’. Bukan, sungguh, itu bukan paksaan. Ya, itu ketawa serius. Yifan ketawa. Yifan ketawa hingga semalaman penuh.

Atau sepagian.

Atau sesiangan.

Atau sesorean.

Atau dua puluh sembilan jam lebih.

Atau sampai perawat dari Rumah Sakit Jiwa terdekat menyeretnya pergi.

Atau selamanya.

Sinting.

Sumpah. Wu Yifan nyaris sinting. Memangnya siapa orang yang memanaskan cangkir di dalam microwave waktu bangun tidur, mengembalikan secarik bon kepada kasir, memanggil rekan kerjanya dengan nama sang ibu, dan melakukan lebih dari belasan hal edan lain dalam waktu kurang dari tiga kali dua puluh empat jam ini? Isi kepalanya kini mungkin sudah tergantikan oleh sebongkah daging kalkun panggang pada Hari Pengucapan Syukur (masa bodoh soal bagaimana bisa itu terjadi).

Yifan bahkan tidak yakin apakah semua kegilaan ini benar-benar disebabkan oleh naskah konyol Kyungsoo yang telah ia baca sampai tamat sehingga Kyungsoo perlu dituntut dan didakwa atas karangannya atau malah hal ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan seorang Do Kyungsoo.

Melainkan…

Ugh.

Sialan.

Tidak, tidak, tidak. Yifan berulang kali menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sampai kapan hal tersebut akan menghantui kepalanya?

Yifan kepingin menangis saja.

Sungguh.

Kau tahu, semua ini begitu menyiksa.

Dan dunia mendadak betul-betul berubah menjadi neraka ketika ia hendak naik ke lantai atas menggunakan lift pada malam itu. Pukul sepuluh. Yifan tengah menekan salah satu tombol pada panel di sebelah pintu dan hendak menanti liftnya turun ketika sebuah langkah seseorang menggema di dekatnya.

Casey.

Casey melangkahkan kakinya ritmis menuju mesin penjual kopi tak jauh dari lift berada. Sementara Yifan cuma meliriknya dari ujung mata elangnya. Selagi sang gadis besurai sebahu itu meraih gelas karton ukuran sedang, sang pria menelan ludahnya kepayahan. Kayak ada Biji Pinus tersangkut di tenggorokannya yang tiba-tiba tercekat.

Dencing uang-uang logam yang Casey keluarkan dari saku untuk kemudian ia masukkan ke dalam lubang kecil pada mesin penjual kopi tersebut membuat Wu Yifan merinding—tak tahu mengapa. Berikut, tangannya mendingin. Sepatu lelaki tinggi tersebut mengetuk-ngetuk gelisah permukaan keramik. Diam-diam, Yifan mengutuk lift di hadapannya karena—demi Tuhan—kenapa ia seperti bergerak lima sentimeter per menitnya, sih?

Wu Yifan benar-benar ingin enyah dari sini secepat mungkin.

Dari tempatnya berdiri, lelaki itu mampu mendengar Casey menekan salah satu tombol pada mesin penjual kopi tersebut. Tak lama kemudian, suara zat cair yang bercucuran terdengar. Itu sudah pasti espresso. Yifan tahu Casey menyukai espresso melebihi apapun. Maka dari itu ia menutup matanya rapat-rapat. Membiarkan bunyi pelan mesin, kopi yang perlahan namun pasti memenuhi gelas karton, serta senandung lirih Casey yang terdengar seperti anda lagu Meghan Trainor itu menggetarkan gendang telinganya. Genggaman Yifan terhadap map makin erat sampai tangan kanannya panas. Darah Wu Yifan berdesir-desir getir tak karuan. Rasanya lelaki itu mau menumbukkan kepala ke tembok saat ini juga.

Bertahanlah, Yifan. Bertahanlah, Yifan. Bertahanlah, Yifan.

Kepala pria tersebut mendidih, malahan hampir meledak. Tinggal tiga lantai lagi sebelum pintu lift terbuka dan pertahanannya tak boleh runtuh. Ya, tentu saja. Tetapi godaan untuk melihat ke arah Casey terlalu besar untuk ia lawan. Jadi, Yifan menyingkap kelopaknya. Melirik gadis tersebut dalam balut sweater hijau muda serta jeans abu-abu. Menatap telapak tangan sang gadis yang tengah merengkuh gelas karton berisi kopi dengan asap mengepul di atasnya. Mengikuti tiap geraknya, bahkan ketika mulut gelas karton berukuran sedang itu mendekat ke bibir bergincu merah muda Casey.

Sial, sial, sial, sial…

Yifan mengumpat seribu kali melihatnya. Tidak. Tidak, Wu Yifan. Alihkan perhatian. Kau tidak boleh kembali. Tidak. Sekali-kali tidak. Hentikan. Cukup sudah, Wu Yifan. Detik selanjutnya, bunyi denting terdengar sangat melegakan.

Pintu lift telah terbuka.

Yifan menghirup oksigen banyak-banyak.

Lantas melangkahkan tungkainya lekas-lekas.

Ke arah mesin penjual kopi.

Peduli setan soal pertahanan yang telah ia bangun berhari-hari ini! Peduli setan soal kegilaan yang ia alami semenjak ia mencoba untuk pergi darinya! Peduli setan soal apapun!

Lupakan saja usahanya sampai sejauh ini. Yifan tidak peduli. Masa bodoh. Yifan akan kembali padanya. Yifan masih membutuhkannya. Yifan mengibarkan bendera putih. Terserah.

Yifan menyerah.

“Casey,” panggil Yifan mantap. Sedang Casey, yang sedang menyeruput espresso hangatnya, tersenyum dari balik gelas karton. Awalnya, dia tidak tahu kalau orang itu adalah Yifan. Tapi wangi parfum Yifan terlalu istimewa untuk dilupakan. Dan, hei, aroma tambahan apa ini? Pasta gigi—sebentar—mint?

“Hei, Yifan.” balas Casey. “Kau lembur la—”

“—pinjami aku koin-koin milikmu, kumohon, sekarang. Akan kuganti segera. Dompetku ada di atas.”

Lalu, dengan brutal Yifan memasukkan koin demi koin ke dalam mesin penjual kopi, menggapai gelas karton yang berukuran jumbo, dan menekan salah satu tombol pada mesin. Kemudian espresso berbau nikmat mengalir memenuhi gelas Yifan. Sedang Casey cuma bisa bergeming keheranan memandang pria satu itu.

Ada apa dengannya?

“Kau tahu, Cass?” tanya Yifan, tapi dia tak perlu jawaban sama sekali. “Apa yang bakal kau rasakan ketika pada suatu pagi kau menyadari bahwa gigi-gigimu telah menguning jelek dan sangat sangat sangaaat tak pantas untuk dipamerkan sehingga kau harus menghindari kopi selama berhari-hari demi menyelamatkan senyum menawanmu?”

Dahi Casey berkerut, mencerna perlahan-lahan. Bisa jadi itu adalah kalimat tanya terpanjang yang pernah ia dengar seumur hidup.

Yifan meraih gelasnya yang kini telah penuh, mengedikkannya hati-hati pada Casey sambil tersenyum puas, lantas berkata sebelum meneguk kopinya banyak-banyak:

Depresso.”

end.

maaf banget nyampah hanya sedikit ikhtiar hamba guna melepas jerat kekagokan dalam mulai menulis fiksi :”””’>

p.s: begitulah, ngga ngopi itu ngga ena :3 ciyus :3

Advertisements

15 thoughts on “Of a Depression and Espresso

    • Put

      HEU BARU BALIK DONG HEU

      MAU NGUCAPIN SELAMAT BUAT MAMANG KESAYANGAN JUGA BUAT DEKHAN SANG MASTERMIND ATAS KERJA KERASNYA SEHINGGA QUOTE ANDA TERPILIH JADI QUOTE OF THE YEAR

      “Entah, tetapi kupikir, gusimu—tidak, maaf, jangan denda aku lima ribu—maksudku, ketawamu jarang kelihatan. Kau kelihatan begitu serius belakangan ini sampai-sampai mukamu mirip kemeja pria bujang yang tak disetrika pada hari Senin. Kau nampak murung. Dan mestinya kau tahu, wanita benci pria layu.”

      ngakak HAHAHAHAHAHAHAHA

      ini yifan kok melas 😦 dia sleep deprived atau gimana sih sampe ambyar begitu. ceileh yg baru putus ceileh galaunya 😦 tapi aku suka bangeeeet. karakternya tuh masuk banget buat si yifan yang huvt gimana sih GGS abes. ganteng ganteng sinting.

      sama kaya aku sih, yg sinting abis baca ini tulisan sinting banget /opo/ santai tapi gak kelewat santai. aku sukaaa banget duh dekhan ajari aku lah mengolah kata agar jadi enak kaya gini. kagok aja kaya gini, kalo gak kagok udah ngadain fansign di gramedia pasti 😦

      daebaq thor, kabar kabar ya kalo jadi ngadain fansign, kumau ikut ehehehe

      • HoneyLulu

        gwencana it’s ok it’s luv

        OMO GA NYANGKA OMO BRB SUJUD SYUKUR BARENG MAMANG ATAS BERKAH RAMADHAN TAHUN INI BAGI BAGI TA’JIL W/ MAMANG NIH FIX HUEHUEHUE STAY TUNE DEPAN PENGKOLAN DEKET ABANG MARTABAK YHA GAIZ LUV ❤

        ha iya melas banget sama kayak selera fesyennya sendokir :(( rambut gondrong ungu kayak ubi :(( maka dusta manakah yang kamu dustakan :(( iya sih heran juga kok yo iso awake dewe kepincut karo mas yifan yang agak sedeng itu :(( untung aja ganteng huvt sebel :((

        lo he kakput jangan sinting cukup jongin aja yang sinting alamat wpnya bukan themaddanseur lagi ntar tapi themadput ((UWOPO)). aku mah apa atuh kakput sensei masih butuh bimbingan dari para master sekalian huhuhuhu teach me mastaaahh :(( yha amiin sajalah do'a orang puasa mah makbul biasanya eheheheh yang mendo'akan juga diamini malaikat lho e e eaaa maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan????? ❤

        huhuhu aku terharu dikatain daebaq thor makasih banyak kak putri :’) (2) iyaaa niiihh aku mau ada fansign lohhh sama eksoooo. jadi yang gulung kabel. hamdalah ❤

  1. liakyu

    Depresso…
    Oke, itu bakal masuk ke kamus aku nanti LOL
    Jadi semua kegalauan mz yifan disebabkan espresso kaaan. Astajimin.
    Yaampyun honey, kamu kok hebat banget sih. Humormu itu lho. Dan aku kagum sama tiap tiap pergantian kalimatmu dari awal sampe akhir. Lucu-lucu 🙂

    Ajarin aku, masta! (hoho, plagiasi)

    Ohiya aku sukak karakter yifan! What the-something weird, hahags.

    Okedeh, honey masta, cukup sekian. Keep nulis yaaaa. Keep nulis. I love your writing style, enw 😉

    • HoneyLulu

      Lucuk aja yah kak depresso HAHAHAHAH xD
      Iyaaa drama king banget anaknya gegayaan nga minum kopi aja bermuram durja like there’s no tomorrow ((plagiasi juga xD)).
      Ah, Kak Liaaa :” Ngga Hani ngga hebat huhu :” Hani-nya masih butuh bimbingan dari para senpai senpai sekalian :” Mohon bantuannya Kak Liaaa senpaaaii :”
      Lalu soal humor…………………………………………..KUKIRA INI EPIC FAIL PARAH HAHAHAHAHAHAHAH.

      Mestinya dakulah yang memohon didikan darimu, senpai :”

      Ehe ehe makasih Kak Liaa senpaaaii makasihhh bangeett. Keep nulis juga buat Kak Liaaa. Cemangats 😉

  2. ranee

    Hmm… Okay, where should I start?
    Pertama, aku beneran clueless ini Yifan stress gara-gara apa. Kerja? But he seems like a friggin’ workaholic who loves to work his ass off ya pokoke Yifan ini nggak keliatan kayak orang yang stress cuma gara-gara kerjaan. Cewek? Tapi diksinya ini nggak menunjukkan sarat mellow pusing ambyar gara-gara makhluk bernama wanita. Dan pas udah sampe di bagian dia ngeliat Casey di depan vending machine itu, aku baru ngeh dan inget kalo judulnya ada ‘espresso’nya duh maafin yah emang aku suka goblok lemot mikirnya.
    Aku ngakak bacanya dan entah kenapa Yifan jadi ngingetin aku sama old saying orang Jawa ‘ngombe kopi sik ben ra edan’ yang sering diucapin ibu/bapakku pas ngopi. Aku kirain ortuku cuma guyon/asal ngomong, eh ternyata beneran. Orang kalo udah addicted sama kopi emang bisa gila cuma gara-gara sehari aja nggak minum kopi. Untung addiction-ku ke kopi belum separah ‘tiap hari harus minum kopi’, at least twice a week lah //terus kenapa
    I like the way you put some jokes in your writings, Han. Nggak keliatan maksa atau berlebihan gitu, pokoknya fresh. I know you’re younger than me but maybe I should call you senpai, sunbae, senior, master, or something because you are so freaking good at writing may God bless this child >.<
    Aku heran kenapa kamu insecure sama tulisanmu yang jelas-jelas bagus ini. And last, keep writing, Han!!

    • HoneyLulu

      HUHUHUHUHU
      I thought this one is gonna be an epic fail but…..THANK YOUU SO MUUCCHH KAK RANI SENPAAAAII.
      Padahal aku ngerasa gagal loh nutup-nutupin fakta soal si Aa’ Yifan yang stress cuman gegara kopi biar pada kepo semua ehe eheheheh ;;___;;

      ‘Ngombe kopi sik ben ra edan’. Never heard it before tapi aku setujuuuuuuu HUAHAHAHAH. Ya emang bener sih, rasanya seharian ngga ngopi tuh kayak ada yang kurang gitu lah. Dan, woah, kayaknya harus memulai hidup sehat segar bugar seperti Kak Rani senpai :” Soalnya aku minum kopi tiap hari, dan baru semingguan ini berusaha ngurangin :” ((YES WISH ME LUCK)) ((GERAKAN PENYELAMATAN MASA DEPAN HANI)) ((UWOPO))

      Ah, makasih makasihh, Kak Rani. Jokes-jokesnya Kak Rani pun ngga kalah cerdas kok eheheh. Tulisannya Kak Rani pun kupikir jauh lebih baguuss :” and…

      NO

      DON’T YOU DARE

      YOU SHOULDN’T CALL ME SENPAI, SENPAI! ;;____;;

      Ayo dong aku kan masih butuh bimbingan dari senpainim huhuhuhu ;;___;; Tapi, makasih Kak Raniiii makasih banyaakk makasihhh bangeettt ;;___;;
      Makasih sudah baca dan komentarr, Kak Rannn! Makasih makasih makasih pokok e you made my daaayyy 0m0 xD
      Semangat nulis! Tetep nulis-nulis cantik juga buat Kak Raniii! xD

  3. S. Sher

    Dulu sempet gini nih hahaha, minum kopi tiap hari, gak tahan kalo gak minum :”” Ya walaupun bukan kopi yang beneran kopi macem espresso tapi sama aja ya, kan mengandung caffeine ((ngapain curhat Sher… ngapain…))

    Kembali ke cerita, SENPAI INI LUCU BANGET ASTAGA. Aku tak mengerti lagi pikiran Yifan yang terserang Depresso jadi aneh-aneh aja. Kalo pada bisa baca pikiran mungkin itu anak udah dikira setengah gila LOL. Terus cara kamu nulis tuh asik banget (?) lucunya dapet tapi tetep rapih, ah pokoknya aku suka ♥

    Keep writing! Aku tunggu tulisan tulisan kece lainnya XD

    • HoneyLulu

      Yha Kak Sher beneran :” Kita sehati :” ehe.
      Ho oh Kak Sheerrr aku pun gila banget sama kopi yah walopun yang instan instan bungkusan harga seribu lima ratus gitu kan tapi tetep aja namanya kopi huhu. Mari kita mulai membudayakan hidup sehat. Pesan ini disponsori oleh Departemen Kesehatan Indonesia :” ((ENGGAK))

      0m0 ku tak taw di mana letak lawaknya sebab kupikir ini gagal banget, Kak Sher senpaaaiii. Dan yep si Yifan udah kayak orang setres aja padahal cuman apa sih segitunya :3
      Ah Kak Sher senpaiii makasih makasih Kak Sher senpaii. Aku pun juga suka samaa tulisanmu yang keren-kereeenn xD

      Okaayyy, terima kasih sudah baca dan komentar, yaa, Kak Sherr! Semangat nulis!♥

  4. slovesw

    aku bisa ngerasain mz kris ini kaya gimana, soalnya dulu aku waktu masih suka banget sama kopi juga kaya gitu; sehari nggak minum kopi kaya belum minum air seharian. bahkan waktu aku dulu masih kecanduan sama kopi sekitar kls 9 itu aku masih sempet-sempetnya bikin kopi jam setengah tujuh dan telat masuk sekolah LOL xD ((lah malah curhat)) ((nyampah bgt ta))
    dan casey itu… HAHAHHA NIPU BANGET kupikir mz kris ni malah pengin sama casey. tau tau… malah milih KOPI PLS MZ KRIS SINI SM KU SJ
    hahahah terus gimana ya, bahasamu bagus banget hani ala-ala orang kaya lagi stres gitu waktu ngekspresiin si kris (lol ini bukan ngejek 😛 ) jadi aku bisa ngerti gimana stresnya mz kris waktu itu huaahhahahaahaha. ringan banget dan ngalir. aduh aku suka fiksi kaya gini yang bahasanya ringan dan konyol xD

    keep writing hani!

    • HoneyLulu

      LOLOLOL KAK TATAAAA I KNOW DAT FEEL TOO WAHAHAHAH XD
      iya bener banget ngga minum kopi seharian rasanya kayak bingung sendiri ada yang kurang. Dan YAAAMPUN AKU NGAKAK SENDIRI BACA CERITANYA KAK TATA ITU HAHAHAHAHA XD

      NO

      TIDA BISA

      SANG AA’ HANYA MILIKKU SEORANG

      Hehe ngga lah aku ngga tersungging apa gimana soalnya kalo taw naghnya bocah ini pun stress beneran bawaan orok Kak Tataaa WAHAHAHAHAHAHAH XD XD XD
      Anyway, terima kasih sudah baca dan komentar, Kak Tataaaa! Keep writing juga buat Kak Tataaa! Cemangatss! :))

      p.s: will visit ur wp asap! yosh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.