One Great Night

fsfsafLembaran baru baru saja dibuka, waktunya menorehkan hal-hal indah di sana!

Terkutuklah sesuatu bernama influenza di dunia ini.

Maksud Jongin, oke, mereka bisa saja datang sambil berkata: “Howdy! Long time no see, Bro!” dan kemudian singgah dalam tubuh malang seorang Kim Jongin untuk beberapa waktu—seolah tubuhnya ialah motel kecil di pinggiran kota—kapan pun mereka mau. Jongin, tentu saja, tidak akan begitu mempermasalahkannya. Apalagi kalau itu adalah hari di mana guru Matematikanya mengadakan ulangan aljabar dadakan ataupun hari di mana Jongin lupa mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Tetapi ‘TIDAK’ (uh-huh, dengan huruf kapital yang amat tebal, garis bawah, dan juga warna merah menyala) pada malam terakhir di tahun 2014; sebuah malam luar biasa yang harusnya kaulalui dengan berbagai macam hal menyenangkan seperti pergi ke villa murah di puncak gunung, bukannya terbaring tak berdaya di atas ranjang dan mengelap ingusmu.

“Hei, Jongin!” Jongin bisa mendengar suara Baekhyun yang unik lewat telepon, pun dengan hingar bingar di belakangnya. “What’s up?

‘What’s up’ terdengar begitu ambigu di telingaku, Baek. Kau sedang menanyakan keadaanku atau kau sedang menanyakan keadaanku?” tanya Jongin.

Baekhyun tergelak. “Oke, oke, maaf. Kelihatannya kau merasa sangat buruk karena tak bisa ikut kami menghabiskan malam tahun baru bersama-sama, ya? I know that feel, Bro.” katanya. “Dan—oh!—villa yang kami sewa lumayan juga. Tidak memakan banyak biaya dan mereka punya view yang cukup bagus di sini. Kau bisa melihat gemerlap kota juga kembang api dari atas. Satu lagi, daging BBQ yang Tao buat rasanya lezat sekali. Tak perlu kaubilang, aku pun juga heran bagaimana mungkin dia bisa melakukannya, tapi Tao mengatakan bahwa ini semua karena dia tinggal sendirian di apartemennya. Keren. Kupikir seseorang harus membuat suaka untuk para lelaki yang pandai masak di luar sana, Jongin, serius deh.” Baekhyun bercerita panjang lebar tentang betapa gembiranya mereka—Baekhyun, Chanyeol, Tao, Junmyeon, Sehun, serta Yixing—di villa kecil yang mereka sewa (tepatnya Junmyeon yang menyewanya, sih).

“Oh.” balas Jongin singkat. “Terima kasih atas dongeng sebelum tidurnya. Indah sekali. Aku mau tinggal di istana seperti sang putri juga.”

“Oh, ayolah, Jongin,” Baekhyun mencoba untuk meredam kekesalan karibnya itu. “Aku tahu kau jengkel, aku tahu kau sangat ingin bergabung dan bersenang-senang bersama kami, namun kau tidak perlu sesedih itu! Kita bisa melakukannya bersama lagi lain kali, mungkin tahun depan, atau di hari ulang tahun salah satu dari kita semua, atau kapan pun itu. Dan—yah—Junmyeon lah, tentu saja, yang akan membayar semuanya. Hehe. Benar begitu, kan?”

Jongin menghela nafas, kemudian masih dengan ketus ia menyahut, “Yah, terserah.”

“Baiklah, Jongin, sampai jumpa nanti!” pamit Baekhyun. “Get well soon, Man. Enjoy your night. Happy new year!” seru pria itu girang.

Thanks.

Lalu sambungannya terputus.

Kali ini Jongin bisa mendengar letusan kembang api yang saling bersahut-sahutan di luar sana. Euforia malam tahun baru sudah dimulai. Dan nampaknya, tak hanya kembang api yang meledak-ledak di langit malam itu, Jongin juga merasa ingin meledak detik itu juga. Ini menyebalkan, tahu! Dialog di telepon dengan Baekhyun barusan malah membuat semuanya menjadi terasa lebih buruk.

Hah. Jikalau Jongin adalah gadis 17 tahun yang tengah—ehem—menstruasi, mungkin dia sudah menangis sekeras-kerasnya pada bantalnya dan merasa bahwa dirinya adalah manusia paling menyedihkan sedunia.

“MASA BODOH DENGAN MALAM TAHUN BARU! ASJKASJKSAJSKJSKASJAK…”

“…”

“ASTAGA!”

“Apa?” tanya lelaki bermat bulat itu.

Kau tahu, punya jendela kamar—di lantai dua—yang berhadapan dengan jendela kamar tetangga sebelah rumahmu merupakan sesuatu yang agak absurd, terkadang. Mereka bisa saja mengintip sewaktu kau habis mandi atau melakukan hal-hal mengganggu lainnya. Termasuk, muncul tiba-tiba dan melayangkan tatapan aneh padamu. Jantung Jongin nyaris melompat keluar dibuatnya.

“Apanya yang apa?!”

“Apanya yang apanya yang apa?”

“Apa—oh, lupakan…” Segalanya cukup untuk menciptakan migrain instan bagi Kim Jongin sekarang. “Kau sedang apa di sana, hah? Kau mengusik privasi seseorang, tahu! Harusnya Undang-Undang mengatur tentang hal semacam itu.” protes Jongin.

Kyungsoo, tetangganya itu, mengangkat bahu. “Aku hendak menutup jendela kamar karena udara luar—sedikit—dingin dan tetanggaku baru saja berteriak aneh di hadapanku. Lagipula, aku tidak berniat mengganggumu.”

Jongin mendengus pelan, “Sebahagiamu, Kyung, sebahagiamu.”

Kyungsoo cuma nyengir mendengarnya. Tadinya dia ingin segera menutup jendela kamar. Tapi melihat muka Jongin yang ditekuk sedemikian rupa seperti kardus TV di gudang, membuat lelaki itu mengurungkan niatnya tersebut.

“Hei,” panggil Kyungsoo. “Kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja.” ucap Jongin, penuh penekanan di setiap hurufnya. “Aku terserang flu di malam tahun baru sehingga aku tak bisa bergembira ria dengan kawan-kawanku di atas gunung dan—ya, aku baik-baik saja, Kyungsoo. Terima kasih sudah bertanya.” cerita Jongin.

King-of-Drama in action, ladies and gentlemen.” Kyungsoo bertepuk tangan sembari tertawa geli. “Ya ampun, kupikir seseorang harus mengemukakan teori tentang ‘Perayaan Malam Tahun Baru Ternyata Tidak Sepenting Itu’ dan menyadarkan jutaan umat manusia dari cara pandang mereka yang konyol soal tahun baru, termasuk kau juga, sih.”

Shut up, Kyung.”

“Baiklah.”

Hening sejemang. Kyungsoo tidak beranjak sedang Jongin memilih untuk menenggelamkan wajah ke bantalnya yang empuk. Hanya suara kembang api yang makin menjadi lah yang tersisa.

Kyungsoo mendapat ide.

“Woah, kukira kembang api-kembang api di langit luar terlampau bagus untuk dilewatkan begitu saja. Oke, aku duluan, Jongin,” pria mungil itu angkat bicara. “Dan, omong-omong, kau bisa turun dan menemuiku di halaman rumah dan memanggang daging bersama. Kalau kau tidak keberatan, sih, soalnya kupikir merenungi hidup lebih menarik untuk seorang pria pemikir sepertimu.”

Jongin mengangkat kepalanya. “Berisik!”

Kyungsoo tidak berniat untuk menanggapinya sedikit pun, dia mengulurkan tangan untuk menutup jendela kamarnya; namun sebelum sosoknya hilang di balik kaca, Jongin mengumumkan sesuatu yang cukup membuat Kyungsoo puas karenanya.

“Aku ikut.”

Daging-daging sapi itu mendesis cukup keras saat bara api dari balik jeruji besi pemanggang milik Kyungsoo itu menjilat-jilat setiap inchi bagian mereka, seakan-akan meminta tolong untuk tidak diperlakukan seperti itu. Mungkin mereka punya dua anak dan seorang istri di rumah dan—ya Tuhan, ampunilah ke mana arah pembicaraan ini pergi (dan juga selera humor penulis yang berada jauh di bawah permukaan laut. Ha.).

Jongin duduk di ayunan kayu panjang bercat putih di halaman rumah Kyungsoo. Dalam bungkusan jaketnya yang hangat (berhubung malam ini dingin dan—yah—dia masih belum merasa baikan, omong-omong), lelaki bersurai kecoklatan itu memandang langit yang seramai pasar malam di atas sana. Ia yakin ini belum seberapa, sih, menjelang detik-detik berakhirnya tahun 2014 pasti lebih dahsyat dibanding ini. Seperti, kau tahu, Perang Dunia ke-III baru saja dimulai. ‘Boom boom boom!’ di mana-mana.

“Nih,” Beberapa saat kemudian Kyungsoo menyodorkan satu porsi daging barbeque di depan batang hidung Jongin, uapnya masih menggulung-gulung di udara. “Awas, masih panas.”

“Terima kasih.” kata Jongin. Tampaknya aroma daging di hadapannya tersebut menggoyahkan nafsu makannya. Apalagi daging BBQ dipanggang dengan matang sempurna oleh Kyungsoo. Ia melahap daging BBQ tersebut pelan-pelan, soalnya tenggorokan Jongin sakit untuk menelan.

Baekhyun benar, seseorang harus mendirikan suaka untuk pria pandai memasak suatu hari nanti. Ha.

“Tadinya aku ingin membuat Jus Jeruk tetapi aku ingat kau sedang sakit dan kebetulan aku sedang kehabisan persedian buahnya, jadi aku buat teh hangat saja sebagai alternatif. Tidak buruk, kan?” tanya Kyungsoo, lantas duduk di samping Jongin.

“Tentu. Terima kasih, sekali lagi.”

Kyungsoo tidak hanya menyediakan seporsi daging dan segelas teh hangat untuknya, kalau kau mau tahu. Dia punya setumpuk makanan ringan seperti keripik Tortilla, setabung Pringles, dan berbagai jenis biskuit. Mungkin saja Kyungsoo mengeluarkan seluruh isi kulkas dan lemari makanan…untuknya? Kalau iya, Jongin patut berterima kasih banyak-banyak kepada lelaki di sisinya ini.

Malam itu mereka mengobrol panjang lebar. Dan Jongin tak menduga hal seperti ini dapat terjadi. Maksudku, yah, Jongin bukan tipikal orang yang gemar membicarakan hal tidak penting sampai ke sana kemari. Ditambah lagi, Jongin dan Kyungsoo bakal selalu berbeda pendapat dalam hal apapun. Seperti, jalan pikiran Jongin menuju ke arah Barat dan jalan pikiran Kyungsoo menuju ke arah Tenggara (karena Timur sudah terlalu mainstream).

“Pasti Chanyeol tengah memainkan gitar andalannya dan mereka bernyanyi bersama sekarang.” celetuk Jongin.

“Masih dibahas saja,” gerutu Kyungsoo. “Tapi, oke, kalau kau ingin mendengar musik aku bisa mengambil MP3 Player milikku di dalam. Aku punya banyak lagu di sana, meski sebagian besarnya lagu lawas, sih. Mungkin setidaknya ada beberapa lagu yang terdengar bagus di telingamu. Tunggu sebentar, biar aku—”

No, no, no,” Jongin mencegah Kyungsoo yang hendak beranjak masuk itu. “Aku tidak butuh.”

“Oke,” Kyungsoo kembali duduk. “Kau tamu paling menyebalkan yang pernah berkunjung ke rumahku, cukup tahu saja.”

“Kau yang mengundangku, by the way.”

“Karena aku kasihan pada muka mirismu, bodoh.”

“Oh.”

“Pulang sana.”

“Hah?!”

“Kembalikan dagingnya.”

“Kau pamrih!”

“Muntahkan teh hangatnya.”

“Kyungsoo!”

Tetapi, entahlah, tiap kali Jongin bicara dengannya, dia bisa melupakan sakitnya untuk sejenak. Jongin lupa akan betapa kesalnya dia karena tak bisa ikut serta teman-temannya menghabiskan malam tahan baru di villa. Jongin lupa akan betapa menyenangkannya makan daging BBQ buatan Tao yang lezat, dan dia berpikir kalau mungkin daging BBQ buatan Kyungsoo lah yang lebih enak. Jongin lupa akan betapa serunya mendengarkan permainan gitar dari Chanyeol dan nyanyian ceria dari Baekhyun, dan dia berpikir bahwa mengobrol dengan Kyungsoo asyik juga. Jongin lupa.

Kekesalannya hilang begitu saja seiring dengan kembang api demi kembang dilepaskan oleh banyak orang ke langit bebas; mengumandangkan semarak tahun baru, menebarkan gemerlap cahaya yang menakjubkan, menorehkan warna-warna abstrak yang indah, kembang api-kembang api tersebut bermekaran di atas langit seperti bunga-bunga pada waktu musim semi tiba, lima menit sebelum jam menunjukkan pukul dua belas malam.

“Kau tahu, Jongin?”

Di tengah desingan serta letusan kembang api itu, Kyungsoo bertanya pada Jongin tanpa mengalihkan pandangan dari langit malam.

“Tidak.”

Begitu pun dengan Jongin.

“Kadang-kadang aku jengkel pada orang-orang sepertimu.”

“Kau sudah mengatakannya berulang kali malam ini.”

“Maksudku,” Kyungsoo masih menatap ke atas langit, matanya yang bulat dan lucu itu berbinar terang. Mirip bulan. “Kebanyakan orang bakal seperti: ‘Yeayy, ini malam tahun baru! Ayo, berpesta! Selamat tahun baru, semuanya!’, lalu mereka bersenang-senang, berlomba-lomba meniup terompet dan menyulut kembang api, menghabiskan malam dengan penuh kegembiraan, hingga akhirnya mereka lupa akan apa esensi pergantian tahun itu sendiri.”

Jongin mengerti apa yang dimaksud dengan ‘Pemikiran Tengah Malam’.

“Wow, materi semacam itu terdengar berat buatku, kawan.”

Kyungsoo terkekeh. “Serius sedikit tidak ada salahnya, Man.” kata Kyungsoo. “Dan—yah—bukan ini yang wajib mereka lakukan, sebetulnya. Walaupun sudah menjadi tradisi tiap tahun. Tapi, memangnya apa yang harus dirayakan dari peralihan tahun, sih? Mereka kira apa manfaatnya semua ini? Apanya yang baru sehingga mereka melakukan semua ini? Tidak ada, Jongin, tidak ada—kalender adalah pengecualian.”

“Yeah, lalu?”

“Percuma saja mereka merayakan tahun baru sehebat itu. Tahunnya tidak baru, kok, tetap ada 12 bulan, 52 minggu, dan 365 atau 366 hari. Justru yang menentukan tahunnya baru atau tidak itu manusianya sendiri. Meski dari tahun ke tahun mereka selalu merayakan dan menyambut tahun baru dengan berpesta-pesta atau hal konyol lainnya, tetapi perilaku mereka dari tahun ke tahun tetap sama dan tak pernah melakukan perubahan demi kehidupan yang lebih barang sedikit pun, lantas apa yang mereka sebut dengan ‘baru’?” jelas Kyungsoo panjang lebar. “Kau tahu maksudku, kan?”

Jongin terdiam, pun juga Kyungsoo. Keduanya masih menengadah ke atas, kembang api di langit tak kunjung padam. Kemudian, sewaktu Jongin merasa kalau lehernya mulai pegal, dia menoleh ke arah Kyungsoo.

“Sejujurnya aku tidak begitu mengerti, sih.” jawab Jongin. Kyungsoo nyaris membenturkan kepalanya ke aspal mendengarnya. Kyungsoo menggerakkan sendi putar antara tulang belakang dan tulang tengkoraknya ke arah Jongin dan menatapnya dengan tatapan: ‘Yang benar saja?!’. Kemudian, Jongin melanjutkan, “Tapi pendapatmu barusan keren juga. Dapat  darimana? Buku? Televisi? Internet?”

Lantas Jongin tertawa—entah apanya yang lucu—dan Kyungsoo yang seharusnya protes tentang ucapan Jongin (itu hasil pemikirannya sendiri, tahu!) tersebut malah ikut terbahak juga. Lagipula, dia sendiri juga geli mendengar ceramahnya sendiri. Jarang-jarang ia menjadi Kyungsoo yang seserius itu.

Pada satu dari sekian malam yang menakjubkan di tahun itu, gelak tawa mereka pecah bersama-sama, menyalurkan kebahagiaan yang terpancar dari dalam diri mereka masing-masing.

“Kyung?”

“Hm?”

“Maaf merepotkanmu, omong-omong.”

Kyungsoo tersenyum santai, “No problem.

“Kyung?”

“Ya?”

Jongin menarik nafas, sebelum akhirnya berkata, “Selamat tahun baru.”

Kyungsoo turut tersenyum kepadanya, menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi, kemudian meletakkan sikunya di atas bahu kanan Jongin dengan seenak jidat. “Well, jangan jadi orang-orang seperti yang tadi kubilang, Jongin.” kata Kyungsoo. “Dan, berhenti bersikap menyebalkan!” tambahnya.

“Singkirkan sikumu!”

Yeah.

Tahun 2014—beserta kenangan juga pelajarannya—telah terlewati, rasanya cepat sekali.

Tahun 2015—beserta impian juga semangat baru yang berapi-api—telah datang menjemput saat ini.

Dan baik Kim Jongin maupun Do Kyungsoo, menyambutnya dengan senyum kegembiraan.

Lembaran baru baru saja dibuka, waktunya menorehkan hal-hal indah di sana!

end.

.

.

.

[ E X T R A ]

“Pasang kembang apinya yang benar, Chanyeol.”

Hyung, aku takut.”

“Hiks…”

“Berhenti menangis, Tao.”

“Semoga tidak terjadi hal-hal buruk yang tidak diharapkan.”

“Chanyeol, kau yakin ini akan berhasil?”

“Ayolah, kalian paranoid. Tentu saja aku yakin.”

“Kau yakin ini aman?”

“Ya.”

“Kau yakin penyangganya kuat?”

“Ya.”

“Kau yakin—”

“Astaga, aku sudah lama ingin melakukan ini, tahu!”

“APA?!?!?!”

“KAU BELUM PERNAH MELAKUKANNYA, YEOL?!?!?!”

BOOM!

“Belum.”

DORR!

“TIDAAAAAAAAAKKK, HYUNG! KEMBANG APINYA BERALIH FUNGSI MENJADI BAZOKA!”

it’s seriouslyend.

Maafkan selera humor hamba juga segala keanehan dan ketidakjelasan fic ini ya Rabb TTvTT

Btw yang kembang api beralih fungsi jadi bazoka itu kejadian beneran waktu pergantian tahun 2013-2014 yang lalu. Makan korban, sih, syukurlah hanya menghasilkan luka cukup ringan heuheu kapok deh saya .__.”

Last but not least, GOOD BYE, 2014! THANKS FOR ALL THE LESSONS! AND WELCOME 2015! HOPEFULLY, WE’LL BECOME A BETTER PERSON THIS YEAR! XOXO

p.s: kalo boleh komen tentang cover…OMG KAISOO OENYOE BGT DEDEK INI BISA APA SIH MAS. Dan seperti biasa…Jongin metingkrang ala ala nagk warteg asoy extra josnyaa satu bang /apa /ngomongopo.

Advertisements

16 thoughts on “One Great Night

  1. Put

    pertama, kalo kamu buka statistik dan liat tiba2 rame dan follower jadi banyak, maafkan aku.. kamu semalem diomongin di chatroom author ifk (in a good way) soalnya pada jatuh cinta sama tulisanmu. maapkan aku kayanya aku yg mulai hahaha.

    kedua, ya tuhan tulisanmu cantik banget. banget banget banget. aku tipikal pemilih, dan aku gasuka banget kaisoo apalagi kalo yaoi tapi ini ya tuhaan cantik mau teriak heboh this is flawless.

    aku suka tipe tulisanmu, sungguh, diksinya simpel tapi kamu ngemasnya rapi banget. aku suka penempatan katanyaaa dan fic ini tuh banyak pake frasa yg indonesia banget tapi nggak maksa dan ga alay jadinya, aku sukaaa banget makanya.

    dan terus yg humormu tentang daging sapi. fyi, it’s called breaking the fourth wall dan itu susah banget nulis kaya gitu biar jatuhnya ga maksa, tapi kamu sukses lhoo. bukannya humormu jelek tapi malah sukses. yaampuuun aduh tulisanmu keren banget emang.

    kaya itu aja belum cukup jadi surprise kamu masih nunjukin kedewasaanmu di omongan kyungsoo, gosh!!! aku setuju banget semua omongannya kyungsoo like iya ya buat apa selebrasi kalo ga ada yg berubah dari manusianya. :”)

    anyway, keep writing ya hani. kamu berbakat banget lho. :))

    • HoneyLulu

      Aku kaget banget yaampun semalem mimpi para author ifk (entah kenapa._.) dan ternyata aku lagi diomongin yaa wahahahah ada apa dengan dunia XD Hehe no problem kak. Harusnya aku yang berterima kasih:)

      Ahh Kak Put mah bisa aja huhu aku ga bisa ngomong lagi selain makasih makasih makasih dan makasih TvT sungguh aku ngga bisa bilang apa-apa lagi kak hehe TvT

      Terima kasihhh kukira itu bakal garing hikz lawakan ga mutu chorom tapi ternyata….hehe sekali lagi terima kasih untuk yang satu ini i can not handle my kokoro omg ;A;

      Yep mereka taunya mah cuman perayaan-perayaan doang lah tapi dari tahun ke tahun tetep sama aja ga ada kemajuan jadi mananya yang baruu hehe .__.

      Hehe makasih Kak Put makasihh banget ga nyangka banget beneran kayak lagi di acara Bedah Rumah tau nggak yang dateng-dateng rumahnya udah bagus dan rasanya aku mau sujud syukur ((yha)) ((memang mestinya begitu han)). Yha tapi ini beneran aku seneennngg tujuh turunan :’) Tapi ibaratnya aku ini masih bayi baru brojol gitu yaa aku masih butuh bimbingan kak :’) Mohon bantuannya hehe :’) Terima kasih banyaaakk terima kasiihh :’)

      Dan lagi, terima kasih sudah baca dan komentar :”)

  2. Suciramadhaniy

    Halloo, aku di sini Hani. Ini rekomendasinya kakput. hihi KEREEN BANGET MASYA ALLAH 🙂 🙂

    Jujur aja ya. Aku kalo baca fic yg genrenya humor, gak sukanya karena mereka terlalu maksa. Tapi kamu engga Hani. Kamu mengalirkan humornya kayak air. Aku sukaaa banget humornya di sini. Lalu, konversasi Kaisoo asik bgt sumpah. 6a6 pokoknya Han! (dibacanya sik a sik han, kalo kamu blm tau hehehe)

    dan, kamu mengemas ini so simple so enjoy so enaaak banget dinikmatiinnya. Sumpah ini sarapan pagi yg menyenangkan. Btw, selamat pagi 🙂

    Terus, pesan moralnya IYAAA BANGET Han. Heuu. Deque, kamu cerdas sekali nak. Aku speechless coba baca tulisan kamu. Adikku aja yg 00line, mungkin pemikirannya gak sedewa kamu gini. Bahkan aku pun nulisnya masih not so into moral value. Jujur. Aku nulis sekenanya aja. Tapi aku bahagia, ada generasi muda (yaitu kamu) yg bisa menelurkan dan menetaskan karya yg luar biasa! 🙂

    overall, you made this so awesome, meaningfull, and fantastic baby yeah!
    oke deh Han. Sekian dulu yaa dari aku. Maaf kalo pagi pagi udah rusuhin kamu. Aku bakalan mendarat ke sini lagi lain waktu 🙂

    keep writting 🙂

    Salam kenal,
    Uci.

    • HoneyLulu

      HALOO KAK UCI 😀
      Aku cukup familiar dengan namamu soalnya hobi banget ngebolang sana sini di dunia wp huehue ( ._.) Dan, yah, sungguh aku harus berterima kasih banyak buat kakput yg sudah merekomendasikan fic macem begini kepada senpai-senpai ifk ;A;

      Hehehee duh terima kasih banyakk there are too much compliment omg i can not jangan lalaikan akuu:”) /apasih. Ini jiwa lawak bawaan orok jadi ya apa yang bisa saya perbuat h3h3h3h. Owalah, 6a6 bacanya sik a sik toh wkwk sip Kak Uci, aku punya perbendaharaan kata baru hehe :3

      Ahh Kak Uci bisa ajaaa heheheheh. Selamat pagi jugaa 🙂 Enjoy your coffee 🙂 Or tea. Or milk. Or energen._. /apa.

      Entahlah kak Uci, salahkan bocah udik yang dewasa sebelum waktunya ini hikz. Sejujurnya aku juga nulis sekenanya Kak Uci, angin-anginan :”) I’m not good enough :”) Jadi, mohon bantuannya yaa, senpai hehe :”)

      Terima kasih terima kasih terima kasihhh huhu kayaknya aku gabisa ngomong apa-apa lagi selain terima kasih TvT Aku pingin nangis pelangi huhu TvT

      Pokoknya terima kasih banyak Kak Uci. Ngga ini ngga ngerusuh kok, ini berkah di pagi hari hamdallah.
      Terima kasih sudah baca dan berkomentar 🙂 Terima kasih juga sudah berkunjung hehehe:)

  3. liakyu

    uh nyesek plus nyesel baru baca sekarang hiks T.T
    Kaisoo, omo, kaisoooo,
    Dari awal aku udah berharap banyak sih-ehem-sejak liat cover-nya ohohoho.
    Tapi gapapa, this is amazing, friendship yang aduhai dan aku doain nyerempet -heiapaansihloe-suatu saat nanti.

    i love your diction, totally i like!
    Jadi minder deh saya, kok anak-anak zaman skrg ebat bgt sih bkin fiksi huhu -berasatua-

    Aku kasih empat jempol deh buat fic-mu ini xDD

    Keep writing, ya xD

    • HoneyLulu

      Uhhh tida lah perlu kamu nyesel Kak Liaaaa TvT
      Yehehet, iyaa ini Kaisoo yang unyu munyuu gemesin ituu hueheu ❤ Eh….nyerempet….apa…? :3 WAHAHAH apaqah engkau seorang penggemar bro-ehem-mance kak? .-. Kalo iya….astaga, AKU JUGAAA xD Ngga seberapa sih tapi sukaaa. Apalagi kalo yang fluff fluff gimana gitu uhukk aku tersedak arum manis/? /hah /ngomongapa.

      Jangan cintai diksiku, Kak Lia :"
      Cintai aku jha /ga /abaikan. Heheheh duh tida usah minder lah dikau Kak Lia justru anak-anak muda jaman sekarang hebat nulis fiksi karena meniru dan belajar dari para senior-seniornya yang ngga kalah hebat kayak Kak Liaa dan kawan-kawan huehuehue :")

      Woahhh terima kasih terima kasih terima kasih banyak sekali untuk jempolnya /eh. Terima kasih banyak sudah baca dan komentaaaarr ❤

      • liakyu

        HADEH Saya-ehem-fujoshi HAHA ADUH jadi malu saya
        Tapi hanya sebatas kopel exo dan beberapa yg ada di manga /gatanya/

        Omaigat kamu ngomongin apa sih honey, kalian itu anak-anak amazing tau, saya bukan senior yang baik /halah

        Tapi rasanya nih, kok kamu uda kayak tau saya /kepedeanwoy/

        Terima kasih juga sudah menyajikan karya yg indah”, honey xD

  4. sakuRaa (@_raraa84)

    hai kakk 🙂 reader baru nih hohoho :v oke to the point aja, demi apapun yah, ini diksinya kakak keren dehh, simple, rapi, dan ngena gitu pesan yg ingin disampaikan.

    lagipula, ini kaisoo. udah pasti aku nge-fans banget sama couple satu ini yak :v
    walau keliatannya mereka sebelumnya sering beda pendapat, tapi akhirnya mereka bisa baikan gitu diawal tahun baru pula, kan sweeettt :’v
    astaga masalah daging sapi itu, entah kenapa aku baca paragraf itu berulang-ulang soalnya kahum banget sama kalimat2 yang kakak pake, bisa pas, bisa lucu, tapi nggak maksa, astagaaa;_;

  5. Put

    ini nih…….

    Daging-daging sapi itu mendesis cukup keras saat bara api dari balik jeruji besi pemanggang milik Kyungsoo itu menjilat-jilat setiap inchi bagian mereka, seakan-akan meminta tolong untuk tidak diperlakukan seperti itu. Mungkin mereka punya dua anak dan seorang istri di rumah dan—ya Tuhan, ampunilah ke mana arah pembicaraan ini pergi (dan juga selera humor penulis yang berada jauh di bawah permukaan laut. Ha.).

    seolah dagingnya/sapinya punya kehidupan kaya manusia. dan kalimat ya tuhan, dst. trus kalimat yg di dalem kurung itu. x)) susah sih emang nulis 4th wall gitu, tapi ini masih termasuk di dalemnya kok. 🙂

    • HoneyLulu

      owalaahh kakpuutt, jadi yang kayak gitu juga termasuk “breaking the 4th wall” ya? kukira cuman interaksi langsung antar penulis dan tokoh fiksi biar terasa nyata gitu ehehe. dan barusan juga browsing tentang istilah tsb jadi tambah ngerti deh kakpuutt x))

      anw, makasih kakpuutt sensei ya ampun ❤ sampe dibela-belain dateng lagi hueheu aku tersanjung ❤

      p.s: udah baca alphabet series N dong B)) tapi disuruh bobok. huvt. komen menyusul!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.